Header Ads

PANEN RAMBUTAN bareng BOCAH KAMPUNG



'Bu, rambutan di pekarangan rumah sudah matang. Silakan Ibu kalau mau dipanen, Bu.' 

Saya mengucapkan itu pada ibu kontrakan penuh kepalsuan. Sejatinya saya berhasrat memilikinya satu pohon. Siapa yang tak pengin menikmati buah asli Nusantara ini? Tentu saya tak mungkin mengatakan buah itu duren seperti anggapan saya selama ini. Ibu kos bisa syok, kejang kejang dangdut, bingung dengan saya. Bisa bisa saya tidak mendapat perpanjangan karena ibu kontrakan menyangka penghuninya kurang satu ons otaknya. Saya mengontrol diri di saat saya hendak menanyakan perpanjangan kontrakan saya.

'Mas Danie saja kalau mau ambil. Monggo!' Ibu kontrakan mengatakan dengan sopan seolah saya anaknya sendiri. Jujur, saya seperti pernah berada di rahimnya, menendang perutnya, juga merasai air ketuban dan tersedak olehnya.

'Saya maem sedikit kok, Bu. Paling cuma lima butir saya sudah puas, Bu.' kata saya sok bijak.

'Ya nanti gampang, Mas Danie. Silakan lho kalau mau. Santai sama Ibu ....'

Pun saya di atas angin dengan angin segar yang diembuskan dari mulut ibu kontrakan. Duren di pekarangan rumah jadi milik saya seutuhnya. Saya tidak harus membeli di depan TVRI Jogja yang di situ berjejer para penjual duren berharga selangit untuk ukuran saya. Duren duren siap saya lahap.

'Bu, kontrakan rumah naik berapa?' tanya saya.

Ibu kontrakan menelan ludahnya sepertinya tak enak dengan pertanyaan saya. Biasanya, orang mengontrak akan berusaha bagaimana caranya agar harga kontrak rumah tidak naik. Tapi saya tidak. Saya sadar jika kontrakan saya terlalu murah dengan fasilitas yang menurut saya lebih. Bersyukur diri saya mendapat tempat berteduh di Jogja yang nyaman, meski jauh dari kota, dan si empunya baik hati. Inspirasi mengalir deras di kontrakan yang selalu saya menyebutnya rumah.

Si ibu kontrakan menyebut angka kontrak dan saya menyetujuinya. Jelas saya telah melakukan lobi yang tidak saling melukai hati. Kontrakan saya aman untuk satu tahun ke depan.

***

Pohon duren di pekarangan rumah saya lebat buahnya. Cuaca juga cerah seolah tahu perasaan saya sedang gembira. Panen harus segera dilakukan, sorak saya dalam hati. Perut saya akan terpuaskan oleh duren kelas wahid; sekali susrup buahnya, rasa hebatnya melesat dan menghantam otak dan ubun ubun.

'Aduh, semut rangrangnya akeh banget!' saya berseru. Akeh dalam bahasa Indonesia berarti banyak. Tapi "banyak" jika di Jawa berarti angsa. Bagaimana coba ini bisa terjadi?

Baru sadar kalau tempo lalu seekor semut rangrang masuk ke celana saya dan membuat seolah bumi menimpa saya. Semut itu menggigit rudal saya yang efeknya bikin seluruh dunia tahu jika saya sedang tersiksa. Lompat ke sana kesini, mencari cari minyak tawon tak kunjung ketemu, sampai saya tertidur menahan rasa sakit.

'Oi, kalian mau duren ... eh rambutan nggak?' teriak saya pada sekumpulan bocah kampung di depan rumah.

Astaghfirullah, saya tidak punya niat memanfaatkan mereka. Betulan! Saya justru pengin berbagi dengan mereka. Saya membujuk mereka untuk naik ke pohon mengambil duren versi saya dan rambutan versi mereka. Awalnya mereka malu malu kucing karena saya jarang di rumah dan tak mengenal saya. Tapi laun mereka berdiri untuk bertindak meluluskan permohonan saya.

'Ayo gotong royong!'

Saya sudah seperti Bu Megawati dengan para bocah yang gembira bergelantungan di pohon memanen buah. Hati saya senang seolah mereka adalah Jokowi, Rustriningsing, Ganjar Pranowo, yang saya kendalikan untuk berkerja bakti.

'Nanti kita bagi, ya!' Pesan saya dari bawah.

Lima belas menit kami telah mengumpulkan duren yang lumayan. Saya sudah menyediakan kresek dan membaginya untuk para bocah, tetangga, bu kontrakan, tak lupa diri saya sendiri. Saya tak pengin menzalimi diri sendiri.

'Panen kita berhasil, Adik adik!' kata saya beraksen Tiongkok sembari mengucapkan kamsia berulang ulang.

'Terima kasih, Kak!' ucap mereka bersamaan.

'Jangan berterima kasih pada saya. Pada Allah Subhanahu wata'ala. Dan Almarhum Ustaz Uje.'

'Kenapa kok Uje, Kak?' Salah satu mereka bertanya.
Saya tidak mungkin menjelaskan pada mereka tentang makna filosofis kenapa saya menyebut Uje. Nanti mereka jadi terpapar diri saya.

Saya menyibakkan poni, menaikkan dagu, dan berucap:
'Rambutan ini kakak namai Uje. Buahnya lebat kaya amal Ustaz Uje. Setiap rambutan yang nanti kita makan, itulah doa kita pada Uje.'

Mereka mengangguk dan pulang ke rumah dengan hati sumringah. Selamat makan, Adik adik!

Mari merapat di www.rumahdanie.blogspot.com

Tidak ada komentar