Header Ads

Hatiku, Budakmu

    Aku membayangkan hatiku telah terbeli oleh seorang tengkulak. Menjadi sanderanya, aku terbekap oleh sebuah dinding tinggi yang membenamkan jiwaku. Seringai buruk si Pemungut itu membayangi setiap langkahku. Menuntutku untuk selalu berlaku sesuai dengan keinginannya. Kebaikan harus tersemat di pundakku, menunjukkan kepada seluruh orang yang menatap. Aku seorang budak yang telah hilang arti hidup dan segala cita-citaku. Hasratku hanya satu, memuaskan orang-orang yang membayarku.  
    Pergulatan ini akan terus menghantuiku, sampai diriku lenyap di telan zaman yang tak lagi berpihak. Tapi aku harus bagaimana lagi, selain menerima takdir ini, tak ada lagi yang bisa kulakukan. Terpaksa aku bermain cantik dan mencitrakan diri sesuai dengan orang yang memberiku makan. Jika rasa tundukku menghilang, leherku pasti cepat tertebas. Aku pasrah menghadapi ini.  
    Kuingat masa lampau, masa gemilang dengan segala kemudahan yang kuterima. Kipasan para perempuan penjaga, makanan yang terus mengalir di meja-meja penyajian, semua berganti-ganti tanpa ada yang berani menghentikan. Aku dulu berbudak, sekarang aku budak. Liur tak pernah kuhasilkan di masa kejayaanku, sekarang ia mengalir deras melihat orang lain, kebebasan. Sulit menemukannya di kala aku telah rendah, seburuk-buruknya hidup menjadi budak.  
    Menuju kebebasan, tanpa mau menjadi budak dari sebuah tengkulak jiwa.  
 
--Jenderal Maximus dalam "Gladiator".

Tidak ada komentar