Header Ads

Tanyaku di Saat Sahur

Aku bertanya, apakah para artis makan sahur dengan tempe?  
Minum susukah mereka di akhir sahur, biar badan tetap bugar dan siap syuting?
Ada ganjalan dalam hatiku, apakah para politikus makan sahur dengan tahu?
Setelah sahur, apakah mereka segera beranjak ke tempat tidur melanjutkan mimpi mereka membangun bangsa?
 
    Aku terus bertanya, apakah Presiden Rindunesia melihat acara leluconan di layar televisi di saat sahur?
    Tertawakah dia, tertarikkah dia untuk sekadar mengirimkan pesan singkat telepon?
    Berharap beberapa juta dia peroleh untuk membeli baju lebaran. 
    Apakah dua anaknya, dia bangunkan untuk menyantap makanan bergizi di subuh hari?
    Presiden Rindunesia, apakah dia segera mandi dan menyusun rencana bangsa menuju kesuksesan?
 
Tak puas aku bertanya, apakah para calon legislatif makan sahur dengan sederhana?
Berkelilingkah mereka bersama sahabat karib, bersafari mengajak sahur para gelandangan?
Menebarkan benih kepercayaan kepada rakyat miskin. 
Apakah bidikan kamera para jurnalis berhasil dia rebut?
Agar hasil jajak pendapat berpihak kepadanya?
     
    Tak mampu detik menghentikanku, apakah para ulama tak capai? 
    Satu bulan penuh berpidato, membimbing, mengajak umat untuk memperbaiki hidup. 
    Apa yang mereka ingin raih? Ketentraman hidup, surga dan menghindari neraka?
    Aku ingin tahu, aku belum tahu, dan hendak tahu. 
    Apakah aku bisa menjadi mereka, sedangkan hatiku kotor. 
     
Aku meraba-raba saku yang di dalamnya berisi gula-gula
Manis tapi tak ingin kumasukkan ke dalam mulut
Bibirku terkunci oleh sekian juta permasalahan yang serasa tak kunjung padam
Menyiksaku, menjerumuskanku ke dalam gelap yang menyiksa
Latar hidupku mengajakku untuk ikut serta, banyak pemandangan yang tak setara. 
Aku di antaranya yang menyebabkannya. Aku di antara jutaan insan Rindunesia. 
     
    Aku berhenti bertanya, apakah aku pantas untuk bertanya? 

2 komentar: