Header Ads

SINGAPARNA, HEART OF TASIKMALAYA


Jantung kabupaten Tasikmalaya, yang saya maksud teh. Singaparna memang ibukota kabupaten berjarak sepuluh kilo dari pusat Kota Tasikmalaya. Saya meluncur ke sana tak terencana. Tetiba batin saya mendorong agar saya mengunjungi Singaparna. Itu saja.

Dulu, saya menganggap Singaparna ialah tempat yang para penghuninya entah karena perang, amukan wabah penyakit, atau bencana alam, mereka pindah ke Singapura yang kita kenal maju di Semenanjung Malaka. Pikiran saya, orang Singapura punya leluhur di Sunda. Bermula dari situ, saya melacak dengan radar kepenasaranan saya. Wusss ....

Kanan kiri jalan yang menanjak ada pohon pohon menjulang nan hijau. Karena motor saya matic, timbul rasa iba padanya. Ibu saya bilang, saya sih percaya mutlak karena surga di telapak kaki ibu, motor matic tak cocok pada medan tanjakan. Harusnya motor tril. Namun karena saya punya Vario ya syukuri saja. Singaparna sudah terbaui oleh hidung bionic saya. Hmmm, sedap!

Di tengah perjalanan, hujan gerimis. Saya tidak berteduh karena Singaparna sudah dekat. Terus saya gas, untungnya gerimis tidak keseluruhan. Dalam jaket yang rada basah, kacamata saya tanggalkan dan gantungkan di leher baju, saya kok mendapati sesuatu yang aneh saat perjalanan.

Tidak tua muda, cowok cewek pengendara yang berlawanan arah saya, melempar senyum pada saya. Tak tahu maksud mereka. Saya tidak seperti artis sinetron yang berwajah putih marmer. Kulit saya cokelat Jawa yang tak terurus. Benar benar heran kenapa para pengendara menyunggingkan bibir mereka.

Sekilo lagi masuk Singaparna, saya baru sadar itu akibat plat saya Purwodadi yakni K. Mereka anggap saya artis Korea yang cucok cucok bermanis manja grup di layar televisi dan bioskop. Saya mengucap terima kasih karena dengan anggapan itu harkat dan martabak saya melesat.

Pun saya sampai Alun Alun Singaparna. Langsunglah saya ke masjid besarnya. Sama, tukang parkir di situ tersenyum melayani saya dengan gembira sembari berucap: 'Welcome to Our Town, Mr. Korea!'

Tidak ada komentar