Header Ads

Ketangguhan Capoeirista di Truk Sapi?



'Berapa jam sampai pantai?' tanya Katja, si bule cewek Jerman. 
Aku menjawab agak ragu: 'Satu jam.'
Padahal, pernah aku dengan teman temanku berangkat naik mobil sekitar dua jam. Itu jika dihitung dengan lamanya sesi pose di Alfamart beralasan beli bekal. Kuyakinkan kembali si Katja jika perjalanan akan sangat mengasyikkan, jalanan semulus tol punya Abu Rizal Bakrie, dan panorama yang terhampar akan sangat menakjubkan. Sayangnya, bak truk tertutup oleh layar berwarna biru yang membuat kami seperti sembako tujuan Kalimantan, bagaimana bisa lihat pemandangan?

'Siap semua?' tanya ketua regu capoeira.
'Cincay ....' jawabku tegas tanpa bernuansa melambai lambai. Teman temanku yang lain kuamati berekspresi aneh padaku dengan jakun mereka yang membesar. Apa mereka salah dengar kalau aku bukan bilang "capcay" ya? Entahlah. Kualitas telinga orang berbeda beda.

Truk meluncur dengan cepat. Mesinnya tak mengerang seperti seorang ibu yang siap membrojolkan anaknya. Suaranya sangat mulus semulus kaki pelatih capoeira kami bernama NN. Sengaja kusembunyikan nama aslinya biar tidak terjadi skandal asmara.

Pada seperempat perjalanan, reaksi negatip mulai timbul. Bau solar menguar menusuk hidung yang membuat hampir seluruh penumpang mabok. Katja dan Svena tampak luar biasa tak terpengaruh oleh keadaan ini. Apakah ini berkaitan dengan gen Eropa yang lebih kuat ketimbang Asia, ya? Ah, sesat ini berita! Angger, si mahasiswa sekaligus musisi Oboe sudah teler. Aku, mantan mahasiswa sekaligus penulis entah berantah, mulai terseok seok otakku. Capoerista lain sudah membiru wajah mereka dan meredup wajah ceria sebelum berangkat.

HOEK ....

Angelo, si mungil siswa kelas dua SMP Kalasan, muntah sangat cantik. Dua kali dia menguras perutnya yang membikinku terenyuh dan meloncat ke arahnya dan memijit mijit tengkuknya laksana ibundanya yang menyalurkan kasih sayang abadinya.

'Sampai pantai ntar kita minum teh hangat ya, Ngelo!' ucapku khas keibuan. 'Kita sih lupa makan pil anti mabok.'
Angelo mengangguk angguk yang untungnya tak menubrukku untuk minta dekapan.

Giliran Satria Adi muntah. Adi panggilannya. Dia pernah bilang kalau dipanggil Satria ia tidak nyaman secara hatinya belum siap. Bau muntahan Adi sudah membikinku mual mual dan terkulai lemas berharap truk segera sampai Pantai Sundak.

Kulirik Svenja dan Katja. Alamak, dua cewek panser itu masih duduk anteng anteng saja. Mental kami sebagai seorang Nusantara jauh di bawah mereka. Tuhan, ampuni kami yang tak punya jiwa baja.


______________________
Sumber gambar: Dokumentasi Capoeira Senzala Yogyakarta

Tidak ada komentar