Header Ads

A Beautiful Mind: Genius atau Skizofrenik?


Menonton "Beautiful Mind", kita seakan ditampar. Terlempar dan menikmati buai alam fiksi, namun fakta bahwa kita manusia menjadi mimpi. Susah bukan? Orang yang berada dalam posisi ini, tak ayal menjadi bulan-bulanan orang awam, dicap sebagai orang gila.

John Nash, diperankan dengan sangat bagus oleh Russel Crowe, memberi pelajaran hidup bagi kita. Keangkuhan karena rasa percaya diri yang berlebihan, ambisi meraih sesuatu yang dia anggap benar, frustasi, dan semangat untuk kembali bangkit, ditampilkan total dalam film memukau ini. Sangat layak jika diganjar Oscar.

Princeton University menjadi tempat awal meletupnya imajinasi 'salah kaprah' John Nash. Memang tak patut menyalahkan institusi pendidikan termasyur yang mencetak ilmuwan dunia itu, namun setidaknya iklim bersaing di sana membuat jiwa Nash hancur. Skizofrenia diderita John Nash yang ambisius. Apakah ini menjadi hadiah bagi mimpi-mimpinya? Hidup di dua alam.

Film ini kuat dalam skenario, menampilkan sosok skizofrenik yang jiwanya terpecah. Selain itu, film besutan sutradara Ken Howard ini unggul dalam penokohan. John Nash yang menerima nobel ekonomi, dengan amat sempurna ditampilkan oleh Russel Crowe. Isteri John Nash, diperankan Jennifer Connely, berhasil mendukung peran Crowe menjadi lebih hidup.

Sayangnya ada beberapa hal yang mengganjal dalam film ini. Munculnya karakter 'fiktif' rekaan John Nash, seorang detektif CIA, di beberapa scene terlihat memaksal. Ketika John Nash merasa dibuntuti agen Rusia, si detektif penolong itu menyetir mobil dan menyelamatkan Nash yang sedang diburu. Memang sekadar menampilkan sisi fiktif skezofrenik, tapi bisa mengganggu cerita. Atau memang cara pandang kita saja yang tidak mengakui alam pikiran skizofrenik?

Secara umum, film ini sangat inspiratif dan menajamkan kepekaan sosial kita.

Empat bintang untuk "a Beautiful Mind".

Tidak ada komentar