Header Ads

PLN (Penguasa Listrik Negeri) Mengajak Bangkrut Bersama

Bisnis Perjudian PLN (Penguasa Listrik Negeri)

 
Penguasa listrik busuk yang hanya bisa lari meninggalkan tanggung jawab. Dengan alasan harga minyak dunia naik tajam, mereka rela mengamankan posisi. Penghematan, penggiliran, perbaikan, dan aneka kilahan yang dilemparkan melalui mulut bohong mereka. Sebuah kejahatan yang menyepelekan kepentingan umat Rindunesia. Menganggap kami bodoh dan menjunjung kepandaian culas mereka.

            Lihatlah pabrik menjerit, karyawan duduk-duduk manis, pekerja kantoran bermain dam-daman, pejabat negeri kepanasan akibat AC mati. Apakah mata mereka tidak bisa melotot dan mengamati secara jelas penderitaan kami? Kami panas tanpa penyejuk ruangan, kami panas karena mesin kerja tak menyala, kami panas karena memburu tugas akhir. Apakah mata mereka buta?

            Jika perusahaan mereka bangkrut karena tak berhasil mengelola listrik, janganlah menyeret dan mengajak kami ke dalam kebangkrutan. Itu konsekuensi yang mereka hasilkan akibat tikus-tikus gemuk yang mereka pelihara. Bukan dari kami. Pajak listrik telah kami bayar rutin, kewajiban telah kami tuntaskan, tapi mengapa kalian merenggut hak kami atas penggunaan listrik? Mengacaukan semua agenda kami yang belum tentu sama dengan mereka.

            Penguasa Listrik Negeri ini selayaknya diajukan ke meja pengadilan PBB. Tak peduli organisasi dunia itu telah kehilangan kepercayaan, setidaknya ada institusi yang mendengarkan jeritan bangsa ini. Kami sudah tak percaya dengan hukum bangsa yang selalu tak berpihak kepada orang kecil. Dan kami menginginkan PLN diajukan ke mahkamah internasional untuk dibuka borok kebiadabannyai. Selayaknya kita melantangkan diri menuntut hak kita yang telah direnggut. Karena makin lama mereka semakin arogan dan tak adil.

            Kami rela kehilangan berjuta-juta rupiah yang hilang bersama pemadaman listrik. Tapi kami tak sanggup menerima kenyataan bahwa hak kami sebagai manusia dilanggar. Kami bukan anggota masyarakat yang bodoh dan dungu seperti keledai. Setidaknya kami bisa membaca aturan-aturan internasional: Pelanggaran HAM harus dijatuhi sanksi berat.

            Sembari menunggu tanggapan para penguasa listrik negeri, selayaknya kita menonton berita teraktual “Gosip Penguasa”. Mereka sibuk mengamankan dokumen-dokumen penting, menyimpannya dalam lemari besi, agar tak terdeteksi oleh Komisi Pembersihan Korupsi Negeri.

Tidak ada komentar