Header Ads

SUPERNOVA: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Mari kita tidak membanding bandingkan antara novel dan film yang mengadaptasinya. Dua hal ini sangat berbeda. Novel punya ruang gerak yang lebih bebas ketimbang film yang berbatas durasi. Ituah tantangan para sineas yang memilih novel sebagai ide cerita untuk mereka visualkan. Kebanyakan film adaptasi tenggelam oleh binar pamor novel, tapi ada pula yang lebih bersinar. Tergantung sudut pandang penilaian penikmatnya.

"Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh" menurut saya termasuk film yang tidak berhasil. Harapan saya yang tinggi ambyar ketika menonton film berdurasi lebih dari dua jam yang diangkat dari novel penulis kondang Dee Lestari. Apakah yang menyebabkan saya menilai seperti itu? Kejam sekali kah? Tidak kok. Kembali lagi, ini hanya soal selera. 

Ibarat racikan kopi, Supernova yang disutradari Rizal Mantovani yang kabarnya berbujet besar, tak mampu menyatukan tiga elemen yaitu air panas, bubuk kopi, dan gula. Ada tiga poin yang membuat film ini seolah hambar bahkan tak enak saya nikmati. 

Pertama, dialog cerita. Menurut saya, kisah Supernova ini terlalu kuat dengan bahasa sastrawi tingkat langitan khas Dee Lestari sehingga karakter tokoh di film ini~Herjunot Ali, Ralene Shah, Arifin Putra, Ferdi Nuril~tak memiliki ruang luas untuk bereksperimen akting mereka. Entah mengapa, saya merasakan dialog antar mereka cenderung datar dan tokoh per tokoh berucap dengan bahasa yang sama. Karakter bertutur Dee tergolong dominan atau kasarnya kemaruk. Pemilihan casting tokoh juga menjadi kelemahan film ini. Arifin Putra dan Ferdi Nuril dari film ke film tak berkembang. Simak saja pada Raid 2 oleh Arifin Putra dan Ferdi Nuril pada Ayat Ayat Cinta. Plek jiplek. Kredit bagus saya pikir hanya layak ke Herjunot Ali. 

Kedua, sountrack. Fungsi soundtrack sebenarnya mendukung cerita untuk lebih berkembang dahsyat. Pada Supernova, soundtracknya tidak ditata dengan pas malah banyak berlebihan. Saya merasa terganggu dan Nidji yang punya karakter kuat juga seolah olah jalan sendiri.Tidak kompak.

Ketiga, plot cerita. Sebagai penikmat film, saya sepanjang film terserang bosan karena film ini semacam tempelan yang tidak menyatu. Banyak pertanyaan yang ada di otak saya semisal:

★ Rueben dan Dimas berambisi mencipta karya yang menemukan sastra dan sains yang spektakuler namun dalam film ini apakah terlihat? Tidak.
★Jika setting di Jakarta, atau dibilang Pseudo Jakarta, kenapa tempat cerita seperti di Bali dengan lautan yang aduhai. Bukankah Jakarta tidak memiliki pantai keren? Jika salah, mohon saya tunjukkan mana pantai terbaik di Jakarta.

Menikmati Supernova berarti mengalami kejenuhan yang parah. Belum karakter tokoh diperdalam sudah dipaksa meloncat ke segmen cerita lain. Jalinan cerita tidak smooth. 

Itu saja yang resensi yang saya buat untuk film Supernova. Untuk kerja keras Sutradara Rizal Mantovani dan kru, maaf saya hanya memberi nilai lima bintang dari sepuluh. Sukses perfilman Nusantara!

Tidak ada komentar