Header Ads

MURKA ALAM ADA?

'Nusa bertabur gempa. Siapkah Anda dengan murka alam?'

Judul provokatif itu mengusik saya oleh istilah murka alam. Langsung saja saya mengomentari artikel di laman National Geographic berujar jika saya tidak setuju. Alam tak pernah murka pada siapa saja. Ia selalu seimbang sampai kapanpun. Itu keyakinan saya.

Bak gaung bersambut, ada beberapa menimpali pendapat saya dan mengatakan saya seorang yang tak memercayai keberadaan Tuhan. Mereka menjuluki saya moron atau dungu. Laju pikiran saya terhenti. Bagaimana bisa mereka mengatai saya ateis sedangkan saya salat lima waktu? Apakah mereka bisa mengukur kadar keimanan seseorang hingga memvonis saya tak berTuhan? Sepertinya berlebihan.

Dalam pemikiran saya, bukan alam yang murka. Manusialah yang mengakibatkan alam dengan sangat terpaksa bangkit dari semadi untuk mencari keseimbangan baru. Ketika hutan habis, alam meresponnya dengan banjir yang manusia terima. Pun negeri ini ialah pusat gunung gunung api dan hanya Pulau Kalimantan yang aman, itu sunatulloh yaitu anugerah Tuhan. Tinggal bagaimana kita beradaptasi dengan pemberian ini.

Gunung api jika kita pandang negatip akan selalu menyeramkan. Namun, tentunya kita bisa menyikapinya semisal memanfaatkan gas panas buminya untuk kepentingan kita bukan? Atau, kita merancang hunian yang bebas gempa? Banyak yang bisa kita lakukan selain terus bergumul dengan pernyataan nyinyir alam murka. Alam tidak bengis.

Semua itu hanyalah bagaimana kita memandang pada suatu persoalan. Saya memilih untuk berpikir positip a la saya yaitu alam ialah sahabat yang selalu seimbang sampai kapanpun.

Tidak ada komentar