Header Ads

JERSEY dari PEMBENCI BOLA


'Saya penginnya, semua pemain bola pakai jersey yang keren. Keren itu apa? Akan saya tunjukkan lewat sketsa yang saya buat di buku gambar saya. Tunggu!' kata Mini bersemangat.

Jam 12 tadi kami sudah berkumpul duduk membulat di ruangan ini. Kami bergabung dalam sebuah komunitas bernama "Pembenci Bola Setengah Mati". Tagline kelompok kami "Menghapus Sepakbola dari Muka Bumi". Ini sebagai bentuk keprihatinan juga kekecewaan kami atas prestasi sepakbola yang standar saja, perkelahian pengurus teras PSSI, pelatih dan wasit yang keranjingan disogok, dan suporter yang kalap ingin tim favoritnya menang dan kalau kalah mengamuk. 

Dulu kami fanatik sama bola. Hapal tidak hanya pemain bola tetapi pemotong rumput seluruh stadion di Nusantara kami tahu. Siang malam, kami mengikuti perkembangan bola di tanah air. Tak ada laga bola domestik dan manca yang lepas dari pengamatan kami. Tapi kini kami berbalik arah membenci sepakbola sebagai olahraga barbar dan murahan. 

Anggota kami 11 orang. Tak lebih. Kami dipertemukan tanpa sengaja ketika sama sama dirawat di rumah sakit karena kena lemparan batu pas kerusuhan bola. Lima dari kami giginya habis. Selebihnya, wajah kami cedera ada yang matanya juling, tahi lalat yang sedianya ada kena batu jadi pindah letaknya, dan parahnya Mini sebagai pecinta bola perempuan alisnya jadi cekung ke atas alias terbalik kena timpuk. 

'Ini!' Mini menunjukkan sketsa jersey bikinannya. Kami di ruang diskusipara pembenci bola ini menanti presentasi Mini. 

★★★

Oya, saya lupa menjelaskan jika komunitas ini meskipun bertajuk pembenci bola, sejatinya kami peduli dengan kondisi bola di negeri ini. Namun, kami tak ingin larut dalam kekesalan dan ikut ikutan mem-bully siapa yang oleh kebanyakan pecinta bola menyalahkannya. Kami punya nalar dan ilmu bijaksana sehingga sekarut marutnya bola tetap ada solusi terangnya. 

Mini membuka pemaparan jersey-nya: 

'Kawan kawan, Pembenci Bola. Kita sudah tahu kalau desainer dan pembuat jersey tim bola dipegang oleh brand asing, kan? Kita ambil alih. Masa kita sebagai bangsa besar mau dikadalin sama orang asing. Sekarang saatnya bangkit! 

Rancangan jersey ini saya buat tiga puluh hari. Saya berpikir dalam ditambah saya puasa Daud. Kayanya saya tercerahkan, sih! Dapat ide bagus. Kalau biasanya jersey hanya dua yakni kandang dan tandang, saya usul itu diubah mengikuti suasana hati sang pelatih. Ini sebagai bentuk apresiasi kerja kerasnya membentuk tim. Kalau pelatihnya semangat membara, kita kasih jersey berwarna menyala terang agar lawan silau dan gol banyak bersarang ke gawang mereka. 

Jika suasana hati pelatih gelisah, gundah, lesu, kita suruh pemain pakai jersey yang muram. Lawan akan terpengaruh dan malas buat bertanding dan kasih kemenangan WO pada kita. Dua jersey menyala dan muram seperti ini!' Mini menunjukkan sketsanya. 

Lumayan, sih. Ada corak bebungaan yang Mini tampilkan sesuai gendernya. Jersey terang dominan motif bunga matahari dan jersey muram ada hiasan bunga kuburan yaitu kamboja.

Mini menambahi, 'Nah, paling penting ini! Kita beri ornamen parang untuk jersey tim kita nanti. Supaya mudah menakuti nakuti wasit yang berniat jahat sama kita. Kalau sudah berbuat merugikan kita kejar wasit itu!' 

Ide menggunakan parang mendapat tepukan keras dari seluruh anggota komunitas pembenci bola ini. Saya manggut manggut dan berpikir gagasan Mini oke juga. Alis Mini yang terbalik semakin tinggi meninggalkan bola matanya karena puas audiens menyambut baik pendapatnya. 

'Sekian pemaparan saya!' Mini membereskan bawaannya dan meninggalkan kursi tengah. 

'Sekarang, giliran Mas Danie!' sebut sang moderator. 

ADUH .... Kenapa saya? Bukankah giliran saya minggu depan? Belum siap nih ide saya?!

Tidak ada komentar