Header Ads

Toni si Polisi Salah Gen: Bertemu Germo Berhati Malaikat


Sebetulnya, Toni termasuk spesies polisi yang keder kalau urusan gerebek menggerebek. Pernah suatu waktu, ia ikut operasi penjebakan gembong narkotika, Toni ngompol saat adegan dor doran. Apalagi ketika serombongan orang bergamis berjenggot demonstrasi dan sekompi polisi mengamankan mereka, kepala Toni seperti koyak dan pengin muntah.


Toni tahu ini kekurangan dirinya dan sekali ia berkonsultasi dengan psikolog. Itupun ia dipaksa oleh satu rekan kerjanya yang trenyuh mengetahui kesulitan Toni.

'Toni, cepatlah kau berobat. Kan nggak enak kalau cerita polisi ngompol atau berak diketahui orang umum!' seru teman Toni.

'Oke, aku akan minta petunjuk psikolog.' ucap Toni hambar.

Psikolog yang Toni temui nyentrik. Ia perempuan berbaju safari, berkacamata tebal, dan botak yang menandakan ia pemikir yang kebablasan. Toni masuk malu malu kucing Anggora, duduk sofa dengan tak jinak. Si psikolog melancarkan serangan bertubi tubi untuk mendapatkan informasi tentang Toni.

'Anda pernah mengalami kekerasan fisik oleh orang tua Anda?' tanya si psikolog sambil membenarkan posisi kutangnya yang melorot.

'Tidak, Dok.' jawab Toni.

'Kenapa Anda panggil saya Kodok?'

'Saya ... em ... em ....'

Tak disangka tak diduga, psikolog yang Toni hadapi berhati sangat sensitif dan mudah tersinggung. Bukan solusi yang Toni dapatkan, melainkan debat kusir. Walhasil, Toni pulang dalam galau luar biasa dan tidak mau ke psikolog lagi. Ia menerima dirinya dengan kelemahannya.

***

Toni, Gundah, dan Gulana menyisir Pantai Samas dari arah Timur. Sepanjang perjalanan mereka berkelakar jika nanti berhasil menangkap banyak WTS, mereka akan makan makan. Gundah aneh mengungkapkan pendapatnya, jika berhasil menggondol satu saja target, ia akan minta foto bareng dan mengorbitkannya di Facebook dan Twitternya. 


'Kami di sini sudah menggerebek rumah bordil. Dapat SEPULUH!' seru Hanuman sang komandan lewat telepon. Toni yang menerima jadi menggigil. Gundah dan Gulana sama saja ketakutan. 

'Kalian dapat berapa?!' tambah Hanuman. 

Sekilat Toni, Gundah, dan Gulana kelimpungan. Mereka belum menemukan rumah rumah warga yang mencurigakan. Berjalan cepat cepat dalam naluri yang rusuh, mereka kesal karena perkampungan warga masih jauh. 

'Gimana nih, Gun Gul?' tanya Toni. 

'Kita laporkan palsu saja! Kita sudah menggerebek tapi WTS pada lari!' seru Gundah. 

'Jangan menipu lah .... Nggak baik.' balas Gulana. 

'Oke kita terus susuri jalan ini!' Toni memutuskan. 

 Akhirnya, mereka bertiga mulai menemukan titik terang. Ada satu gang aneh yang lampu di depan rumah rumah di situ menyala terang dan berkedap kedip. Toni berseru agar mereka bertiga masuk ke kampung itu. 

'SEPADA ....' 

Seorang perempuan bule bertubuh tambun, bergincu merah tebal, menghadang perjalanan Toni dan dua temannya. 

'Saya Angelina .... Germo di lokalisasi sini!' ucap si perempuan itu. 

Toni, Gundah, dan Gulana melongo. 



__________________________

Mengobrol teduhlah kita di www.rumahdanie.blogspot.com
Sumber gambar: http://bloggers.com

2 komentar: