Header Ads

Menyekap Seorang Muazin

'Hentikan azanmu!' bentakku pada si muazin. Ia tenang dalam duduknya dengan mulutnya yang kusumpal cawat, tangannya kuborgol ke belakang.

Sejam lalu ia kumantrai, kutikungkan biar tak sampai masjid. Otak si muazin itu kukacaukan agar tak berfokus lagi meneriakkan azan penganggu tidurku. Manjur benar, ia menuju rumahku mengetuk ngetuk pintu dan kubuka tampil wajahnya yan

g tolol tanpa daya.

'Masuklah!' pintaku ramah.

Lalu kutubruk dia tanpa perlawanan. Tali rapia merah yang telah kusiapkan kukeluarkan dari saku kulilitkan di pergelangan tangannya. Kudorong ia ke kursi yang menempel di dinding ruang tamuku.

'Kau tahu, percuma kau bangunkan aku?! Juga orang orang kampung! Kau ajak kami jadi baik, PERCUMA!'

Emosiku meledak. Ia menatapku kosong seolah mantraku kelewatan banyak dosisnya. Tukang ronda kemarin tak separah muazin ini. Apa karena ia terlampau tulus sampai denganku ia manut manut saja karena menganggapku orang baik?

'Bicara!' seruku. 'Lawan aku!'

Kubuka sumpal di mulutnya. Anehnya, ia tak bereaksi dan masih diam. Aku bingung setengah mati.

'Mau makan?' tanyaku.

Persetan. Ia bergeming membikinku mondar mandir. Kuamati rusuh jam di tembok. Keparat! Jam sialan. Kutoleh si muazin, wah ... mulutnya bergerak.

'Salam ....' Ia berucap.
 
 
________
Sumber gambar: pukullima.blogspot.com

2 komentar: