Header Ads

Silet, Fenni Rose, dan Konspirasi Yahudi

      Silet untuk mengerok janggut. Rambut rambut berjuntai ke lantai. Dipungut atau dikumpulkan untuk dijual tak masalah. Silet adalah benda tajam yang siap mengiris kemaluan. Atau dilemparkan sekuat tenaga menyasar muka musuh. Dan si lawan akan terkaing kaing, berdarah darah, ditandu paramedis untuk disterilkan, diperban, biar muka tak utuh lagi.
     
      Fenni Rose bercuap cuap. Di depan monitor TV, dengan gaya yang dibuat buat. Merayu pemirsa, mewujudkan obsesi untuk dipilih sepuluh kali beruntun di ajang Panasonic Awards. Tanpa susuk di kerongkongan, harus diakui, suara Fenni sangat menggoda. Pelacur jalanan bersuara seksi bermantra, tak mampu mengalahkan pesona sihir si Fenni. Khas, ganas, trengginas, buas, dan pedas. Terkadang ia menyindir Sarah Azhari dengan payudara supernya. Atau di lain waktu memuji si Taufik Hidayat yang berhasil juara di luar negeri. Saya merasa, presenter satu ini tak memiliki karakter. Meski yang patut diacungi jempol, hanya panorama pita suaranya. Indah, renyah, terkadang tak lebih dari remah remah.
     
      Sekumpulan Yahudi berada di ruang tertutup. Sepuluh orang, lima lelaki lima perempuan. Tak ada pesta cabul, yang ada menyusun strategi melumpuhkan lawan. Politik, dagang, pendidikan, apa saja yang bisa dibantai agar tak ada lawan di muka bumi. Tak tahu detail apa yang mereka bicarakan. Semua terbatasi oleh tabir. Oleh logika bercampur mistik. Yang khas Yahudi.
     
      Fenni Rose memegang silet. Dipamerkan ke seluruh pemirsa di seluruh Indonesia.
      'Pemirsa. Ini silet. Saya akan mengiris nadi saya! Perhatikan pemirsa.'
      Rating naik. Melesat. Terus dan terus. Seluruh kru RCTI bertepuk tangan. Merasa puas dengan kinerja yang spektakuler. Biar satu komponen merasa tak nyaman, yang penting kontroversi terus berjalan. Terus digodok. Masukkan terus kayu bakar, biar nyalanya lebih terang. Air mendidih di atas seratus derajat. Manusia manusia Indonesia harus dikompori dengan berita yang heboh. Karena itu sangat disuka. Penuh kebencian, biarlah. Terus dan terus. Karena itu yang diinginkan. Iklan iklan, membuat buku tabungan sang produser tak mampu lagi menampilkan print. Harus berganti ganti buku. Tukang bank sampai kelabakan.
     
      Tak perlu bergosip, Fenni. Jika kau mau, selidiki konspirasi para Yahudi yang tengah menggurita di tanah air kita. Dijamin nyalimu ciut, otakmu tak mampu untuk mengorek seberapa canggih Yahudi sudah menguasai negeri ini. Memorakporandakan, tanpa pernah kau bisa memublikasikan. Karena kau hanya mampu untuk bercenayang. Itu pun tak profesional. Dan terkesan mandul.
     
      Fenni Rose, belajarlah dahulu. Saya berikan alat penembus waktu. Saya kirim Anda ke waktu lampau. Ke era dinosaurus, atau flinstone. Biar kau bisa menata dasar dasar berpikir dengan baik. Sehingga orang yang kau pengaruhi tak menjadi para budak yang tak berotak. Selamat jalan ke dunia purba wahai Fenni Rose.
  
     
     
     

2 komentar: