Header Ads

Hujan Lalu Mendung. Tidak, Mendung Selanjutnya Hujan

Bukan hujan didahului mendung. Tapi hujan mendadak, selanjutnya mendung. Tak ada peringatan, banjir segera menerjang perkampungan. Permukiman amblas, didorong menuju lembah kematian.

Hujan, hujan, tak ada penampung. Waskom para ibu tak mampu, sudah penuh dengan makanan jajan pasar. Mereka terlalu banyak berkicau, tertawa lepas, lupa jika air dari langit harus membutuhkan perhatian. Awas, kata yang sudah lepas dari ingatan para warga. Berganti dengan ucapan: Tangisan.

Jika kejadian bisa diantisipasi, mengapa harus merasa ini kejadian alam. Bumi mengamuk, menyalahkan semua yang bisa dilempari tanggungjawab. Dan, manusia duduk bersilang kaki.

Mendung setelah hujan. Tak perlu lagi. Karena mendung dekat dengan hitam. Kekacauan.

Membiarkan ini berlarut, tak ubahnya kebodohan yang membuat tulang keropos. Dan, lumpuhlah tak mampu berjalan.




Tidak ada komentar