Header Ads

A Sexy Jinny Vs Sule: Banyolan Lempar Lempar

Jinny berada di sebuah guci. Bukan di dalam botol. Pengap, berbau apak, Jinny kegerahan. Uring uringan, ia mengipaskan telapak tangan kanan, berharap menahan laju keringat di wajahnya.
'Aduh. Ini kurang ajar banget. Sapa yang naruh aku di sini.' keluh si Jinny.

Guci transparan. Dilihat dari dalam oleh Jinny jelas. Dari luar, pemilik dengan mudah mengawasi gerak gerik si Jinny. Tapi, sang Juragan tak ada di tempat. Jinny baru sadar, sepertinya ia tengah digendam atau dalam minumnya semalam dimasukkan pil tidur. Lalu, si manusia tak tahu adat memindahkannya dari botol ke guci.

'Huwah ... bulan apa sih ini?' Si Jinny menguap, dengan kesadaran yang masih di awang awang. 'Ini jadwal mens ku.'

Tengah bulan, si Jinny datang bulan. Di botol ajaib, banyak fasilitas mewah. Mau spa, ada tempatnya. Jika rambut lepek, segala perabotan salon siap sedia. Dilakukan secara mandiri. Atau, jika badan capek capek, ada refleksi. Semua lengkap lengkap. Dan Si Jinny merasa nyaman. Meski sesungguhnya botol itu adalah penjara baginya. Tak masalah. Kenyamanan bisa dibuat, begitu Jinny beranggapan.

'Mana orang di luar sih. Aku mau ke luar dari guci ini.' seru Jinny.

Di luar guci, tampak sebuah ruangan kerja. Ada seperangkat komputer. Tengah menyala, memutar Film The Simpsons. Tak ada yang menonton. Lalu, di sebelahnya kipas angin kotak menyalak kencang, dengan Stella penebar wangi bergerak gerak berusaha menahan laju angin. Dan, suara tape recorder bersaing dengan suara cempreng Boneka Simpsons. Lantai di ruangan itu berceceran aneka majalah dan buku. Sang Juragan pasti orang yang malas membersihkan kamar kerjanya. Terlalu sibuk berkutat dengan dirinya. Hingga tak sadar jika, separuh iman adalah dari kebersihan. Foto foto orang besar menempel di dinding. Ada Mahatma Gandhi yang sedang tertawa, John F. Kennedy di masa mudanya yang penuh semangat berorasi di depan warganya. Atau, di sana Marlyin Monroe terpasang termenung bersebelahan dengan poster Ir. Soekarno Presiden RI yang paling heboh dan patriotik. Ini ruangan yang tak jelas. Antara politik, humor, dan kejorokan bercampur menjadi satu.

Jinny geleng geleng kepala. Suasana di luar benar benar membuat dirinya seperti berada di kapal yang oleng oleh badai. Ingin muntah, tapi ia tahan. Tak ingin si Jinny menambah bau guci yang buruk menjadi lebih mencekam.

'Kalau manusia di luar laki laki, akan aku jadikan suami. Kalau wanita, aku jadiin teman gosip.' Janji terucap dari mulut si Jinny.

Suara keresak terdengar. Dari dalam guci pun bisa. Jinny berdegup, tidak terlalu kencang, tapi cukup membuat bulu kuduknya naik. Berharap laki laki, dan ia akan melepas masa lajang. Atau wanita, bakat besarnya berbicara ala Pemegang Diamond MLM tersulut seperti panah lepas dari busurnya. Mengarah target.

'Ehm ehm ....' Suara dehem dari seorang manusia.
'Laki la ....' Jinny memekik.
'Prikitew ....'

Sule menjadi suamimu, Jinny. Selamat deh. Aksesoris, perabot rumah tangga, tempayan, wajan, kasur, akan ia lempar ke wajahmu wahai Jinny. Kau harus tertawa nanti. Karena segala gerakan Sule adalah humor tingkat tinggi. Tak ada  yang mampu menampiknya. Karena pemikiran cerdas konyolnya hanya bisa dinikmati dengan tanpa berpikir. Jika berpikir, kau tak dapat hiburan darinya.

Sekali lagi, Sule sekarang resmi menjadi pasangan hidupmu.

Sule dan Jinny, Romeo dan Juliet masa kini.
 

Tidak ada komentar