Header Ads

Monyet Berbuntut di Gerbong 6-4B (Seri Pelancong Gendong)

    Monyet bergoyang, mengikuti gerak kereta. Terlonjak di sambungan rel. Seolah menghindari kerikil nafsu para teroris. Buntut, tanpa buntut. Menjajakan tahu, kacang, Panta dingin, yang ini milik asing. Pukul pantat CEO Koka Kola Kumpeni. Cari tahu, apakah dia berbuntut.
    Kopi? Siapa mau menyesap kopi dalam gontai kanan lalu kiri? Anda bukan? Sebelum menganggukkan dagu, saya menjamu Anda. Saya hargai nilai diri dan keyakinan Anda. Berapa? Rupiah atau Dolar? Atau, Euro? Yang pasti bukan rupiah, pengekor itu uang! Seperti buntut monyet. Yakinlah saya jujur.
    Woi, aku orang Batak, bah! Ambil sisa botol air mineralmu, buang ke tempat sampah. Dasar bodoh! Negeri ini ingin maju atau tidak? Saya, maaf, aku algojo kebersihan. Turuti perintahku. Cepat!
    Stroberi, murah sekali. Seribu rupiah, tanpa goyang maut kurs mata uang asing. Tapi busuk. Sungguh sayang, ya. Beli dong, membagi rezeki, orang miskin harap diperhatikan. Selanjutnya buang paksa ke Universitas Senayan. Di sana banyak monyet-monyet tampan dan cantik. Berebut. Seperti orang Jawa berebut berkah gunungan di malam 1 Sura. Awas, dompet dilirik copet.
    Monyet, waktu berhenti. Plek.
    Tig, tog, tig, tog.
    Mesin waktu ngadat.
    Gatotkaca, dia teknisi waktu. Kumisnya, sungguh membuat dada wanita mengencang. Mur, baut, sekrup jatuh dan diambil lagi. Tepat, tak sampai sepuluh deitk. Segesit makhluk pit stop formula satu. Eh, tunggu. Pejabat desa menonton balapan. Bukan karung, tapi EF-WAN. Kerja Gatotkaca tak terpengaruh. Kerja, mereparasi zaman.
    Monyet bergerak lagi.

14 komentar:


  1. Ah, kau juga menemukan romantika dalam sepotong gerbong butut..... Aku juga pengen nulis pengalamanku ach..........

    BalasHapus
  2. bukannya romantika itu tertuju pada nama penamu?
    aku jadi bingung, romantis itu seperti apa?
    aku hanya tahu, romantis itu membanggakan IBUNDAku. Selebihnya belum kurumuskan.

    BalasHapus

  3. Mbuh. Aku gak akur sama mamakku.

    BalasHapus
  4. Mamak mu kenapa?
    aku usul
    gimana tukar mama?
    maksudku ibumu suruh hidup di kampungku. Mampus koweeee
    ngurusi adik2ku
    bapakku jangan


    gimana. deal ga?

    BalasHapus

  5. Terbayang aku akan adek-adekmu yang masih bocah tengil itu..... Akan beratlah beban mamakku..... Cuma ya ajukan sajalah proposal, siapa tau mamakku bersedia.....

    BalasHapus
  6. Mamamu lulus program B3B ga?
    Kan genting rumahmu masih ada tulisan itu?
    Disorot gubernur dari helikopter tuh

    BalasHapus

  7. Gak sopan agh..... Tau aja mamakku Pegawai Ngeri Sipil.....

    BalasHapus
  8. Lah kamu ga tahu saja.Ni guwe eks editor ngelamar CPNS.Met tinggal idealisme.Doakan ya.Ntr namaq jd Andhy Matery.Ha6

    BalasHapus
  9. Oya? Badan Main Tanah Nasional sedang buka lowongan, kau gak nyoba? Pasti ada saja tempat untukmu yang berjiwa selir >:p
    Ampun, Ndoro.... Heheeeeee....

    BalasHapus

  10. Ah, penulis+oportunis, tak pernah menjadi pasangan serasi, Teman!!! Sambal serasi? Ikan asin, sayur asem.... Wah, tepat Sunda jugalah jadi biniku, hwahahaaaa....

    BalasHapus
  11. Aku masih mengolah bagaimana cara menjadi orang yang keren tanpa meninggalkan kekhasan pada diriku.
    Itu ga mudah dan aku harus berjuang.
    Entah apa ini akan berujung di lubang WC?
    Aku berusaha saja

    BalasHapus

  12. Ya sudah, asal jangan lupa cebok.

    BalasHapus