Header Ads

Please Pak Hakim, tolong Pengebom Bali ama si Koruptor jangan dihukum mati! Kami sayang mereka ....

Segala usaha telah kulakukan. Aku memegang prinsip dan telah menunjukkannya kepada dunia. Kepada Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan semua musuh-musuh prinsipku. Nama Tuhan telah kutegakkan. Aku merasa sudah purna tugas-tugas yang diembankan kepadaku. Tinggal menunggu waktu, aku akan bertemu Tuhan di surgaNya.

            Aku menolak sistem negeri ini. Kucoba hancurkan dengan bom dahsyatku. Ratusan turis asing yang kuyakin mereka semua mata-mata Barat kubantai habis. Aku merasa puas dengan prestasi ini. Kutunjukkan kepada dunia bahwa negeri ini sangat layak untuk diperhatikan. Kami, jika boleh aku mewakili bangsaku, telah lelah dengan sikap Barat yang berat sebelah. Aku menawarkan diri dan tubuhku untuk menjadi martir. Martir yang menjunjung tinggi kalimat Tuhan.

            Kurang dua hari lagi aku dihukum pancung. Bukan hukum tembak, aku menolaknya. Lebih baik aku terus menunjukkan prinsip kerasku daripada menyerah kepada sistem yang mengadopsi kepentingan para kapitalis. Bunuhlah aku dengan pedang sebagai simbol ketangguhan diri. Jangan pistol yang berarti kecengengan. Aku ingin menunjukkan bahwa jiwa manis akan terus dilibas oleh pihak Barat. Ingat itu!

 

Bom Bali, sampai sekarang masih kabur kabar beritanya. Ada semacam tarik ulur tingkat tinggi yang menyelimutinya. Para keluarga korban sudah muak melihat sistem peradilan di Rindunesia yang lambat. Sebaliknya para hakim, jaksa, dan polisi masih asyik mempraktikkan ilmu hukum mereka yang baru saja mereka dapat di bangku kuliah akhir minggu. Semua menunggu dalam sebuah ketidakpastiaan. Parahnya, media lebih tertarik dengan berita pemilihan kepala daerah yang bombastis. Biar dilihat negeri-negeri Barat bahwa Rindunesia telah belajar berdemokrasi dengan baik. Kasus bom bali sebanyak dua jilid agaknya bisa dipinggirkan sebelah.

 

Tak jelas memang: nyawa manusia, peradilan, politik, prinsip keagamaan yang kental, apakah selamanya saling bertentangan. Jawabannya hanya ada di dalam hati.

 

Tak ada dalam kamus kehidupan bahwa dihalalkan membunuh sesama. Kehidupan yang membuat Tuhan dan yang menyabutnya juga Dia. Pengebom bali boleh menunjukkan prinsip-prinsip hidupnya, tapi mereka tidak berhak untuk menebas leher orang lain. Sungguh tempat terkutuklah buat kalian. Dan sebenarnya yang berhak menentukan letak neraka atau surga juga Tuhan, tapi pengebom itu sungguh orang-orang bejat. Apakah mereka tidak pernah dididik jika ada banyak cara lain untuk melawan ketidakadilan di dunia ini? Memandang dunia tidak boleh sepotong-potong. Harus adil dari segala sisi.

Kutantang wahai pemerintah! Seberapa besar nyalimu untuk menegakkan keadilan bagi wargamu. Untuk para pengebom, untuk korban, dan untuk semuanya.

Tidak ada komentar