Header Ads

KONSPIRASI PABRIK KUNCI dan PERAMPOK



Dua malam menginap di pantai bareng rekan Komunitas Menulis Fiksi membuat kami semakin paham gaya masing masing pengarang. Ada sepuluh peserta yang secara ide edan semua. Mereka brilian mengangkat suatu kasus untuk diramu menjadi bacaan renyah dan berkualitas.

Kami membagi diri menjadi empat kelompok kesenangan menulis-dunia binatang, manusia, flora, dan jin atawa siluman. Saya sebetulnya punya kegemaran menulis di tiga bidang; fauna, manusia, dan setan. Tapi oleh ketua panitia, saya wajib memilih.

'Kalau hibrida tiga hal itu boleh nggak, Pak Panitia?' Saya kukuh masih pengin bergabung ke tiga kelompok.

'Harus satu!' Seru pak Panitia. Di acara komunitas ini, ada sebuah tim panitia yang punya tugas melerai jika sewaktu waktu pecah keributan antar penulis.

Seperti Anda ketahui, para penulis sangat sulit disatukan. Kami sama sama orang bebas, punya ide menurut pemikiran dan keyakinan sendiri, dan jangkauan pula target yang berlainan. Potensi gesekan antar penulis sangat tinggi. Karena kita berebut pengaruh lewat cantiknya dan ketajaman jemari merangkai kalimat.

'Bukankah manusia, siluman, dan hewan satu naluri?' Bela saya pada pilihan saya.

Ketua panitia membentak saya sampai bola mata pengin copot ke lantai juga gendang telinga saya bergetar parah. Ia mengingatkan saya jika tidak manut aturan panitia, saya disuruh pulang ngempeng mama saya. Edan, mama saya sudah sepuh. Pelecehan sekali. Namun karena saya pengin juara di Komunitas Menulis Fiksi, saya mengangguk pasrah.

***

Saya memutuskan berada di grup MANUSIA. Sebenarnya saya sebal dengan yang namanya manusia. Serakah! Belum saling lomba punya ini lah itulah. Kurang kaya, korupsi dengan mengurangi takaran yang seharusnya. Kadang saya iri kalau lihat kuda nil di TV. Mereka asyik main lumpur tak harus berpikir kejamnya nalar manusia. Dan saya sekarang memilih grup manusia dengan segala risikonya.

Ada tiga gundul di kelompok manusia; saya, Tito mantan narapidana politik yang menghibur hatinya lewat puisi dan novel cantiknya, dan Lina si ibu rumah tangga jagoan mengarang kisah petualangan remaja. Lutut saya beradu saking grogi oleh kedigdayaan mereka.

'Aduh, Yang Kakung. Bantu saya dari surgamu!'

Saya menyebut eyang kakung kesayangan saya yang saya yakin sudah di surga. Tapi, meminta bantuan orang yang sudah meninggal tidak pantas dilakukan karena ia beda alam. Pun saya mengoreksi dengan menatap secara jantan kenyataan saya tengah ada di Kamp Lomba Penulis Fiksi.

'Mereka makan nasi juga sama kaya saya. Tidak ada alasan saya penulis baru!' Tekad saya menggelora.

PRITTT ....

Peluit menyalak keras dengan sempurna bebarengan dengan matahari yang berangsur malas tenggelam di balik lautan. Angin menyepoi rambut saya yang mulai berguguran. Burung burung camar pulang ke sarang untuk berkumpul, menggosip, dan menertawakan manusia yang durjana.

Pak panitia yang tadi membentak saya muncul di hadapan kami; saya, Tito, dan Leni. Ia semakin sangar dengan pentungan di pinggangnya. Sepertinya, panitia menyamakan kami dengan para waria yang siap diciduk karena berjualan softex bekas sembarangan di pinggir jalan.

'Kalian bertiga?! Penulis cabul semua ....' teriaknya.

Sebenarnya saya sudah pengin melampiaskan kekesalan pada si pak panitia tak punya adab di sepa saya. Ia semena mena mengatakan kami penulis stensilan. Namun saya kembali ingat jika aturan sudah diteken untuk tidak melawan panitia.

'Kalian, kami kasih tugas!' ucapnya melembut.

Saya deg degan. Dalam bayangan saya, tugas itu mengupas pemikiran Karl Marx, Plato, atau seorang SBY. Bedebah! Itu pekerjaan yang tidak mudah. Kepala saya mendadak pening.

'Tugasnya apa, Pak?' Tanya Lina.

'Terserah kalian?!' Bentak kembali si panitia dengan mengentakkan kaki ke bumi tiga kali. Dunia seperti berguncang.

Kami bertiga saling berpandangan.

Pak panitia melanjutkan, 'Sebagai penulis, bebaskan hati kalian. Jiwa kalian. Buang pasung yang kalian ciptakan! Rugi hidup sekali terbelenggu oleh ruwetnya otak kalian. Buat tulisan terbaik menurut kalian!'

Ia berlalu meninggalkan kami. Saya menghela napas. Lega karena tidak ada batasan untuk meluncurkan ide segar kami. Seperti diberi angin segar, saya menulis: KONSPIRASI PABRIK KUNCI dan PERAMPOK.

Tidak ada komentar