Header Ads

RT/RW yang Hangat tanpa Peperangan

Betapa indahnya hidup tanpa permusuhan. Kita dan para tetangga saling membantu. Tak ada prasangka di antara kita. Melepas lelah bersama-sama saat usai membangun rumah salah seorang warga. Menyesap teh atau kopi sambil bersenda gurau. Menanti mentari turun menuju peraduan. Semburat jingga menyemarakkan hati kita. Jalinan kebersamaan yang utuh dan tak dibuat-buat.

            Kami merindukan suasana itu. Hati-hati yang menyatu dalam balutan keindahan. Senyum-senyum mengembang tulus diiringi tatapan mata lembut dan hangat.

            Tapi semua itu telah hilang ....

            Berganti dengan senyum serakah yang saling memakan. Prasangka dan egoisitas menyeruak mengisi malam-malam mencekam. Tawa tak pernah terdengar. Yang ada hanyalah kebisuan dengan alasan kesibukan bekerja. Itu telah terjadi lama setelah teknologi menyapa otak kami. Menggeser rasa senang yang sebelumnya kami dapat dari bersilaturahmi. Menuju kesenangan semu melalui televisi, komputer, dan mesin lain.                       Bulan yang sering menemani kami saat asyik berbincang, kini berubah lampu pijar dan nyala mesin pembantu. Hingga alam pun tak membantu kami, membiarkan kami masuk ke dalam perangkap keangkuhan.

            Desa telah menjadi kota. Kota bertransformasi menjadi metropolitan.

            Kenangan yang hilang seiring perjalanan waktu.

 

7 komentar:

  1. Keknya aku pernah nulis yang rada mirip sama hal ini deh..... Judulnya "Pengaruh Modernisme dan Nama Besar.........dst". Keprihatinan kita sama? Kitaaaaaa???!!! Lu, kaleeeeeeeee..........

    Maafkan aku jika kurang kreatib.

    BalasHapus
  2. Otak kita di surga sama. Di bumi berbeda karena kita terpisah oleh Selat Sunda.
    Tapi hati kita berada di antara surga dan neraka.
    Yang pasti, "Darah itu merah, Jendral!"

    --Maaf Fa, aku tidak mencontekmu saat ujian negara kemarin.
    Aku lulus dengan nilai suma cum laude

    BalasHapus
  3. Oh ya, aku yakin kau takkan mencontek. Wajah alien-mu itu akan membuatmu tampak menyolok saat lirik kanan-kiri sehingga akan menarik perhatian pengawas ujian. Oya kau tau Bu Cindy Menarinari, pengawas ujian kita yang cantik kemarin itu? Ternyata beliau tidak pakai kancut saat mengawas. Sssst, kau harus jaga mulut lebarmu!!!

    BalasHapus
  4. Mulai jorok deehhh ...
    Guwe selotip mulutmu nih!
    Ga ada kata ganti kancut apa?

    BalasHapus

  5. Adanya kata ganti orang pertama, kata ganti orang kedua, kata ganti kepunyaan, kata ganti dan sebagainya.... Kata ganti kancut apa? Kaulah kasih ide.

    BalasHapus
  6. Aku usul ini,
    kancut : jerutan busana
    atau,
    Busana penahan gesekan agar tidak infeksi.
    Atau,
    apa ya?
    Perlu dicari tu. Penasaran aku. Menurutku kancut rada ga sip. Kamu usul apa?

    BalasHapus

  7. Bagaimana kalau menggunakan istilah yang populer di Medan saja? Sempak.

    Kurang sreg juga?
    Segitiga penghubung.
    Iya, penghubung alam nyata dengan alam hantu.

    BalasHapus