Header Ads

Ayat-ayat Penambang Belerang Kawah Ijen, Gunung Bromo

Kegemaranku mendaki gunung tidak hanya menuai cerita indah, tapi juga kenangan getir. Aku makin menyadari bahwa hidup ini tak sendiri. Kubuka hariku dengan mata yang lebih jernih dibandingkan hari belakangku. Masa yang sebelumnya kuyakin sebuah kesempurnaan, sekarang berubah drastis saat aku menjadi pendaki gunung.

            Entah berapa gunung yang telah kutaklukkan, tapi perjalanan kali ini sungguh menyisakan kepahitan yang menusuk jiwaku. Sering kali kulihat pemandangan membuai saat kusampai di puncak tertinggi, namun kali ini kutemukan sebuah kejutan penusuk tulang. Batinku menjerit di saat mata dan mulutku baru merasakan kegembiraan. Keriaan yang ternyata semu.

            Gunung Bromo, Kawah Ijen. Menelanjangi diri ini yang ternyata buta sekali akan kenyataan hidup.

            Asap itu mengepul dari puncak gunung. Tebal dan menciutkan nyaliku dan kawan-kawan. Kami menyangka aktivitas gunung sedang naik, dan membuat kami ingin memutuskan turun kembali membatalkan rencana pendakian. Namun kami menemukan sesuatu yang benar-benar membuat kami terperanjat. Seorang lelaki bertubuh gempal dan kulit hitam legam memikul sesuatu yang sangat berat. Dua keranjang berada di sisinya dengan barang mencuat dari dalamnya berwarna kuning keemasan. Muka lelaki itu ditutupi selapis kain dan kepalanya bertopi. Masih dari jauh kami mengamati, kami memutuskan untuk mendekati lelaki itu.

            Semakin dekat kami kepadanya. Gairah untuk mencari tahu lebih dekat seolah membuat semangat kami melonjak. Inikah kehidupan di atas gunung dan di bawah awan yang berselimut asap tebal? Alangkah terkejutnya kami, lelaki itu tidak sendiri melainkan ada sekitar sepuluh orang. Mereka penambang belerang di Gunung Bromo ini.

            Kami hidup sejahtera di bawah gunung, mereka mengais kehidupan di puncak-puncak kehidupan. Lupakah kami dengan mereka? Atau malah kami tidak pernah mengenal mereka. Alangkah parahnya hidup ini. Tertawa gembira dan tak tahu jika ada kehidupan yang di luar nalar kami. Mengapa mereka mau bekerja seperti itu? Tak maukah mereka turun gunung dan mencari uang seperti orang-orang pada umumnya.

            Mereka menyapa kami terlebih dahulu sebelum kami sempat menguluk salam. Rasa persahabatan baru sepertinya tak dibuat-buat. Dari ucapan mereka jelas bukan orang yang suka mencari keuntungan. Sapaan itu jelas membuat kami makin takjub. Sepertinya mereka sangat menikmati pekerjaan ini. Di sela-sela batuk salah seorang penambang, kami memperkenalkan diri. Para penambang itu menghentikan sejenak pekerjaan mereka.

Namun kami mempersilakan mereka untuk meneruskan pekerjaan.

            Kami menemukan hal baru. Penambang belerang Kawah Ijen. Tanpa masker mereka mempertaruhkan organ pernafasannya demi orang bawah gunung. Yang akan segera menikmati sensasi belerang hasil tambang para pendekar Kawah Ijen. Menjadi kosmetik, obat-obatan, atau bahan bangunan. Terbuai oleh kedahsyatan mereka, kami mengucapkan salam perpisahan, turun gunung, dan menunggu kedatangan mereka untuk sekadar bercakap.

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar