Header Ads

Rumah Sakit adalah Teman Lama

PKU Muhamadiyyah Yogyakarta, Jl. KH. Ahmad Dahlan, 4 November 2006, malam sabtu sekitar maghrib.



 


Waktu itu saya duduk di serambi Musholla menunggu teman melakukan ibadah sholat maghrib bergantian –karena takut sepatu hilang. Kepalaku menengak-nengok ke kanan kiri seperti detektif menaruh kecurigaan yang mendalam kepada setiap insan yang melakukan tindakan tak layak untuk suatu kebiasaan. Jadi berfikir; sebenarnya kita ibadah takut kepada Sang Pengaman atau takut sepatu kita hilang? -Terus terang dua hal ini saling menggantikan posisinya di dalam hati. Kadang Tuhan menjadi pengisi batin, namun seringkali Hantu seperti sepatu indah dan sandal bermerek yang menjadi berhala. Susah sekali.


 


Di sana banyak orang membesuk sanak saudaranya yang sakit, dengan membawa tas berisi baju ganti untuk pasien ditambah dengan teremos air panas menjadi lengkap suasana rumah sakit –berkali-kali aku protes, kok tidak dinamakan rumah sehat. Derap suara alat pengangkut pasien dengan rintihan lirihnya menjadikan situasi pilu menjadi menyeruak. Di meja sang penerima tamu ada sepasang suami istri yang bingung menanyakan di mana letak ruangan anaknya yang baru saja masuk rumah sakit sedangkan mereka berasal dari luar kota. Pancaran kesedihan dan kebingungan terlihat di mata mereka, diperparah dengan pelayanan sang sekretaris yang tidak pernah melepaskan sunggingan senyum. Sungguh suatu potret nyata kondisi rumah sakit yang benar-benar sakit tanpa ada yang memberikan suntikan semangat untuk hidup – Menteri Kesehatan sibuk check up di negeri Singapura jadi tidak peduli bawahannya merusak kepercayaan orang sakit.


 


Kumandang adzan dan iqamah sudah lewat, tangisan sanak keluarga memohon kesembuhan –dalam doa- kerabat menggema di ruangan berukuran 6x6 m. Ruangan seakan menjadi tempat berkeluh kesah dengan ratapan, rasa sesal, tobat, janji tak akan mengulangi kejahatan bahkan sumpah akan mengelilingi lapangan sepak bola ketika anaknya sembuh dari penyakit cacar air. Karena aku hanya mengantar teman yang akan menjenguk adik angkatnya, maka hanya helaan nafas yang masih kekanak-kanakan yang terhembuskan.


 


Teman sudah memberikan kode untuk segera mencari mangsa –lho kok, emang mau jadi mucikari- maksud saya adalah mencari ruangan adiknya yang terbaring gontai. Sedikit saling gesek pendapat antara kami, dia menunjukkan jalan ke lantai atas sedangkan saya bersikukuh pasien ada di ruangan lantai bawah. Padahal saya tahu kalau yang berkepentingan dia, tetapi dengan langkah pasti saya mengutarakan pendapat secara bebas –namun kadang brutal- toh negara ini adalah negara bebas untuk berpendapat. Bunyi pasal 27 UUD 1945, sebelum dirombak Majelis Percerewetan Rakyat, “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul adalah hak semua warga negara oleh karena itu jika ingin buang hajat maka segeralah karena terancam wasir”, jelas memberikan payungan hukum bagi lelaki cerewet sekelas saya –dari tadi aku dan saya saling menggantikan, lama-kelamaan malas jika pakai kata saya, formal sekali.


 


Pertanyaan disampaikan kepada seorang perawat membetulkan pendapat temanku –bukannya tidak konsisten tapi aku lebih mengena. Segera kami mencari ruang Al Multazam, di sepanjang jalan kami berdiskusi tentang arti kata ruangan tersebut. Aku mengira-ngira -seperti peserta Who Wants To Be A Millionaire dengan pembawa acara Tantowi Yahya, sekarang jadi Super Milyader 3 Milyar bimbingan Dian Sastro- bahwa arti kata tersebut adalah tempat air zam-zam berada. Dia masih bingung masih menebak dengan jangkauan pemikiran yang aku sendiri tidak usah pedulikan, sampai di rumahpun masih bertanya-tanya. Sebelum terjadi kesepakatan tentang arti kata tersebut, kami sudah menemukan sang pasien yang terbujur lemah di ranjang penuh dengan jahitan.


 


Aku berkenalan dengan mereka sekeluarga, biasa dengan kepercayaan yang tinggi namun sedikit mengambil jarak karena siapa tahu aku terlalu masuk ke urusan temanku. Aku hanya menanyakan sesuatu yang perlu saja, karena jika berucap yang berlebihan bisa jadi mereka tidak simpati kepadaku. Ilmu penerapan “kamar per kamar” aku coba lakukan, terkesan malu-malu kucing juga tapi karena baru proses belajar masih dimaklumi.


 


Dua orang mengalami kecelakaan, sang kakak mengalami luka cukup parah di sekitar mulut sehingga operasi jahitan di muka perlu dilakukan. Si adik yang menjadi pengemudi di depan mendapatkan jatah luka yang lebih parah –mengalami patah tulang dada- sehingga membutuhkan operasi dalam. Yang agak mengherankan adalah sang adik yang kebetulan tercatat sebagai mahasiswa baru sebuah perguruan tinggi negeri, masih sempat memikirkan perkuliahannya. Dengan nada tinggi dia menyesal ketika terbaring di rumah sakit sedangkan tuntutan praktikum mulai menekan otaknya. Padahal dia menahan sakit.


 


Aku tahan amarah yang ingin kukeluarkan tanpa berfikir lagi, namun kembali praktik membuat kotakan mutlak dilakukan ketika kita berhadapan dengan lawan bicara sehingga ilmu komunikasi akan lebih efektif. Biarkanlah dia berproses mengikuti pertambahan usianya. Jika dipaksakan maka hasilnya akan kurang baik, biarkan dia bertransformasi menjadi kupu-kupu yang lebih indah.


 


Teringat akan pengalamanku ketika berada di rumah sakit, sering sekali, aku membaui parfum rumah sakit dengan perasaan syukur. Sekarang aku mulai –insyaAllah- bisa berfikir bahwa kesehatan adalah mahal dalam hal keuangan dan energi yang dikeluarkan. Oleh karena itu jika kita mendapatkan kesehatan maka tugas kita adalah membimbingnya untuk menjadi dorongan semangat meraih cita-cita. Dan ketika kita sakit maka nikmatilah hari-hari sedih itu dengan syukur juga karena dengan sakit kita bisa beristirahat, namun ke depan harus lebih menjaga kondisi tubuh menjadi lebih energik. Ingatlah semua pengalaman dalam hidup sehingga lebih bijak menilai kehidupan yang diberikan oleh Sang Pengatur.


 


Kuakhiri kunjungan itu dengan rasa syukur yang mulai kupupuk. Masalah kekurangan diri terus dikurangi dengan kesabaran dan ketulusan, bahwa semua usaha ada penilai yang paling adil. TUHAN, bantulah aku menghargai hidup., tanpa bantuanmu aku bingung dan buta.


 


 


 


 


 


 

Tidak ada komentar