Header Ads

Buddha, Collapsed out of Shame (Hana Makhmalbaf, 2007)


Membayangkan Afghanistan berarti kekompleksan. Ada beberapa yang menyangkut di otak; negeri hancur luluh lantah oleh perang, pendudukan Rusia, tempat bersarang teroris Al Qaeda
yang diburu Pemerintah Amerika Serikat, atau rezim Taliban yang sangat fundamental menerapkan syariah Islam. Satu lagi, patung Buddha raksasa, yang menjadi artefak dunia, dihancurkan oleh Taliban dengan alasan patung itu penjelmaan setan terkutuk. Waktu itu, seluruh dunia mengutuk, kebudayaan yang telah lama dibangun tiba tiba dilenyapkan. Episode episode dramatis itu hanya terjadi di Afganishtan di sebuah negeri indah yang kacau akibat konflik berkepanjangan bernama perang.

Buddha, Collapsed out of Shame memotret kehidupan permukiman warga di sekitar Patung Buddha besar. Bukit bukit cadas, kehidupan warga yang keras, dan juga pendidikan. Pendidikan, ya pendidikan a la Taliban.

Rezim ini tak mengizinkan perempuan mengecap pendidikan dengan semestinya. Baktay, gadis kecil Afghan, berakting lugu tapi total di film ini. Melihat Abbas, teman sepermainannya, asyik membaca, Baktay terpancing rasa penasarannya untuk belajar pula. Namun apa daya, kesempatan tidak memperkenankan gadis kecil ini ikut bergabung. Ia bertekad untuk sekadar mendapatkan buku, dengan menjual empat telur kepunyaan ibunya. Atau, menggunakan lipstik untuk menulis.

Film yang mengkritisi keadaan sosial negeri tanpa harus menodongkan pistol ke pihak Amerika Serikat, Taliban, atau seteru seteru lain. Perang ditampilkan sang sutradara dari sisi pandang anak anak. Terasa tidak menyakitkan, tapi tetap saja menjadi pemikiran untuk mencari sedikit pemecahan: agar perang tak menjadi pilihan. Meski ada yang bilang, perang dibutuhkan sebagai pembuat seru sejarah. Hanya orang orang tak punya perasaan yang mengatakan seperti itu.

Hana Makhmalbaf menyutradarai film ini saat ia berusia 19 tahun. Merupakan keluarga sineas asal Iran, bapaknya adalah sutradara besar dan kakaknya juga pernah ikut meramaikan Festival Film Cannes di Prancis. Sungguh keluarga yang bersemangat.

Layak ditonton seluruh keluarga.
7 bintang dari 10.

Meribut di www.rumahdanie.blogspot.com

Tidak ada komentar