Header Ads

Indonesian Rhapsody

Bertumpuk tumpuk kasur basah. Lupa diangkat, mahasiswa empunya tertidur pulas di lantai saat hujan lebat. Beralas tikar dengan sisa bantal yang ada. Buku buku masih ada di dalam kamar. Tak ikut binasa akibat hujan yang kian mengganas. Merekalah sumber pengetahuan, begitu buku dikata oleh generasi bangsa. Yang tadi lupa mengangkat kasur. Tak masalah, membuang adalah jalan terbaik. Menjemur kembali memakan waktu yang sangat lama untuk kasur kapuk untuk kering. Bukan busa, karena itu milik para mahasiswa kaya.

Bermimpi masa depan yang cerah. Dilanjut berbelanja kebutuhan hidup dengan amat mudah. Tidak seperti ketika menjadi mahasiswa yang serba kekurangan. Membayar uang kos saja harus merajuk sang ibu kos untuk memberi keringanan penundaan. Belum bayar SPP yang seperti hantu yang terus memelototi selama hampir lima enam tahun. Memadu kasih dengan pacar, menikah, dan menghasilkan anak yang lebih pandai dari orangtuanya. Tiap pagi pergi kerja, pulang malam hari dengan keringat yang menyungai karena berdesak desakan di dalam bus. Terus bergulir. Terus memberi pesan yang teramat dalam.

Bangun tidur. Mengucek mata. Posisi selimut sudah mencelat jauh. Namun, posisi kalender masih tetap tergantung di dinding sebelah utara. Mengumpulkan nyawa, menguap tiada henti, berniat membuat kopi untuk nanti mengunjungi dosen favorit yang amat dicintai. Bercerita panjang lebar tentang kisah mimpi semalam. Lalu, mendapat marah. Karena dosen menganggap dirinya dilecehkan. Ia seperti Ahli Nujum.

Mahasiswa kembali ke kos dengan lesu. Tak tahu apalagi yang harus dilakukan. Strategi apa yang musti dikembangkan untuk meruntuhkan hati dosen. Untuk kembali bersimpati, memberi jalan lempang untuk lulus. Sekadar membahagiakan orangtua yang telah bersusahpayah memberi asupan uang tiap bulan.

Rapsodi, Rhapsody, dua kata dua bahasa. Indonesia dengan mahasiswa mahasiswa yang berkualitas. Menuju perubahan yang dicita bersama.



Tidak ada komentar