Header Ads

Menderita Terkunci-Dini Hari di Kamar Mandi, Pertemuan dengan Semut Ajaib

Terjebak di kamar mandi. Terkunci tepatnya. Tak bisa ke luar karena kunci luar pintu terkatup. Karena kamar mandi ini ada dua kunci. Di dalam dan di depan.
Maksud ibu kos yang membuat kunci berganda adalah:
Kunci dalam untuk menutupi kemaluan kita dari tatapan orang lain yang mungkin lewat.
Kunci luar dimaksudkan menahan benturan pintu jika angin kencang menekan.
'Der!' suara pintu.
Diikuti oleh umpatan ibu kos, 'Sapa kuwi! Siapa itu!'
Padahal sudah tahu jika pintu berulang kali menyalak karena angin.

Ini hari malam. Dini hari menjelang subuh. Senyap tak ada suara teman kos yang biasanya seru berteriak menyambut gol gol indah di televisi sebulan lalu. Mereka pulas tidur setelah berpikir keras menyelesaikan tesis atau skripsi. Bapa dan Ibu kos juga terdengar paduan orokan mereka, amat pelan. Di kamar mandi ini saya berharap semoga segera datang seorang bidadari yang menyelamatkan saya di ruangan tak terurus ini. Kamar mandi yang sangat jarang dibersihkan oleh kami, anak anak kos. Karena kemalasan dan kecuekan kami sahaja.

Ingin saya melengkingkan suara meminta tolong. Tapi ini sudah terlaru larut. Percuma saja. Nanti malah membuat keributan dan panik seperti orang orang yang menyelamatkan diri dari gempa. Saya urungkan niat itu.

Sebelum masuk ke kamar mandi, cuaca panas. Gerah malahan. Beberapa menit terkurung di dalam kamar mandi, dingin mulai menusuk kulit dan tulang saya. Atau ini karena saya mulai panik dan semakin tak berpikir rasional, sebab tak tahu lagi mencari solusi untuk segera ke luar? Selain ketakutan, dingin menambah saya semakin tak keruan harus berbuat apa.

Akhirnya saya jongkok di WC.

Memandangi porselen lantai yang kekuning kuningan, dengan beberapa semut yang masih saja bekerja di malam buta ini. Saya kemudian berimajinasi, bertanya kepada salah satu semut.
'Hai Semut. Kamu lelaki atau perempuan?'
Salah satu semut menjawab, 'Jantan atau betina yang tepat, Baginda.'
Ia memanggil saya baginda. Sepertinya, darah mereka memang ditakdirkan untuk mengabdi. Sehingga orang yang bertanya dan berniat baik kepadanya dijawab layaknya abdi dan raja.
'Kau memanggil aku Baginda?' tanya saya.
'Ya,' Sambil menghentikan langkahnya, si semut menatap saya tajam. 'Mengapa Baginda tampak ketakutan?'
'Aku terjebak di sini.'
'Mengapa?'
'Terkunci dari luar.'
'Saya bisa membantu Baginda.' jawab si semut yakin.
Saya berpikir keras, bagaimana bisa si semut membantu saya. 'Mmm ..., bagaimana kau bisa membantuku?'
'Mata Baginda mohon dipejamkan.' pinta si semut.

Saya mengecil. Tampak bak kamar mandi seperti tumpukan batu piramid yang menjulang. Genangan air di lantai yang cowak bagaikan danau yang siap sewaktu waktu menelan tubuh saya jika tak waspada.

'Kita masuk ke lubang itu Baginda.'
'Lubang pembuangan air itu? Ke pipa?'
'Ya. Mengapa Baginda?'
'Jorok sekali. Bukankah aku bisa ke luar lewat celah di pintu kamar mandi ini?' jawab saya.
'Tidak akan mungkin bisa Baginda.'
'Kenapa?' tanya saya agak menekan.
'Karena kita di ruang imaji.'
'Terus?'
'Jika kita lewat sana. Kita akan terbakar. Selayaknya kita ke luar melalui pipa pembuangan Baginda.'
Saya menurut. Tak harus berpikir panjang lagi. Karena saya mulai mengarah ke kegilaan jika mendebat si semut di hadapan saya. Japit di mukanya tampak sangar. Jika saya terlalu senewen, membuat semut marah, digigitlah saya dan mati.


Jarak saya dengan lubang pembuangan jauh. Berjalan, saya berkeringat banyak, dan tidak untuk si semut. Saya lihat ia masih saja bersemangat, tak ada muka yang menunjukkan dia kelelahan. Mungkin ia tipe semut pekerja. Dan keras.

'Tunggu sebentar Baginda.' ia memohon.
Beberapa jarak darinya ada sepotong daun kering. Diangkatnya dan segeralah ia berjalan kembali.
'Ayo Baginda kita teruskan perjalanan kita.'

10 menit. Saya sampai di lubang pembuangan. Baunya pesing. Sepertinya ini hasil dari kecerobohan anak anak kos termasuk saya. Nikmatilah.

'Loncatlah Baginda. Kita akan meluncur.'
'Apa?' teriak saya.
'Ikuti saja Baginda.'

Dan saya meluncur menuju selokan tempat air comberan berhilir.

(bersambung)








































 













8 komentar: