Header Ads

Ratapan Anak Tiri

    Bara cintaku melesat dan meluruh cepat. Tersulut emosi yang mendadak, lalu hilang tak terkendali. Angin lebih jahat daripada api. Aku menginginkan kobaran itu memanjang, namun embus kegagalan menyeringaiku. Hatiku goyah di saat tepuk cinta menyapaku. Terjepit, aku berontak, namun aku gagal. Hatiku belum menetap dalam ruang jiwa. Rapuh dan menjamur sampai ujung waktu.  
    Permata jiwa, mengilap di kala durja. Aku merana dalam buai keinginan. Tak mampu kugabungkan antara hasrat dan kelemahan. Aku gontai tanpa setongkat kegembiraan yang berhasil kucabut, dari tanah gersang. Peri-peri mungil tak mau membantuku, membiarkanku bekerja sendiri mengurai makna. Terduduk, sesenggukan, meratapi nasib yang tak kunjung berpihak.
    Andai kumempunyai cermin, aku ingin menatap mukaku tajam. Lekuk, guratan, dan pori-pori yang melebar ingin kuhias dengan bedak. Agar bisa kupertontonkan kepada mereka yang melihatku sepintas lalu. Menyuguhkan kelebihanku, mengurai kekurangan dan mendapukkannya ke muka mereka. Aku ingin dilihat jumawaku dan kegersangan jiwaku. Bukan satu sisi, seluruh. Tapi apakah mungkin mereka mengerti, aku terdiam.  
    Samudera biru, langit kelabu, mentari mengilat, bayu menepis, tanah retak, hujan menanti. Aku tersenyum membayangkan alam. Aku bagian dari mereka. Masih memiliki teman, manusia lewat, alam menari di depanku. Terhibur oleh mereka, aku tertawa melepas gerutu. Alangkah hidup tak bisa dipegang, jika aku mampu berlaku adil.  
    Satu kalimat, satu keyakinan, 'Menempuh perjalanan yang sulit dengan rasa mudah'.
    

Tidak ada komentar