Header Ads

Shantie, Jangan Kau Tinggalkan Aku! (Bagian 2)

“Shanti, kenapa kau tega meninggalkanku!”

Ternyata aku bermimpi. Mimpi buruk sekali. Aku hampir menangis sejadi-jadinya. Gadis pujaanku hendak pergi jauh. Menyeberangi laut, gurun, juga gunung. Dalam mimpi dia berucap bahwa dirinya ingin sekolah ke sebuah negeri yang sangat jauh. Jauh dan tak pernah terbayangkan olehku.

Kamar ini seakan menyempit dan menekan tubuhku. Lampu ruangan juga meredup, sama seperti hatiku yang menciut. Angin tak berani masuk karena takut akan amarahku. Aku sangat terpukul dengan mimpi yang baru saja kulalui. Ia seakan menjadi musuh terbesarku malam kelam ini. Ingin kumengumpat, tapi tak tega dengan teman kamar sebelah. Bisa-bisa aku dianggap gila. Tapi memang aku telah gila, tak waras dibuat oleh gadis itu. Shanti membuatku tak rasional dalam berpikir. Keruh, tak berarah, dan selalu membayangkan wajahnya.

Isyarat itu membuatku terperangah. Dua hari yang lalu, dia pernah mengatakan ingin berlibur tapi tak pernah mau mengatakan suatu tempat. Dia mengucapkannya dengan senyuman genit, hingga aku menerjemahkannya sebagai hal biasa. Aku terlena dan tak cermat melihat gelagat-gelagat ganjil pada dirinya.

Mas, selamat tinggal. Aku akan melanjutkan sekolahku di negeri seberang.

Sebuah pesan mendadak muncul di layar teleponku. Shanti mengirim pesan dan isinya tepat sesuai perkiraanku. Dia akan pergi meninggalkanku.

 

2 komentar: