Header Ads

Antie Tak Tahu Sayur Kangkung

    Seorang gadis remaja sedang berada di pasar tradisional. Wajahnya imut, berperawakan kecil, dengan jepit rambut warna-warni. Bukan karena mendapat tugas kampus; mencari bahan-bahan aneh berbau kampung, akan tetapi dia mendapat tugas dari ibunya. Membeli sayur kangkung.
   "Ada-ada saja, nih, Mama!" Gerutunya tak kunjung henti. "Masak anak gaul seperti aku, disuruh beli sayur kangkung. Itu kan makanan kelinci?!"
  Hari ini Mbak Lastri, pembantu rumahnya, cuti kerja karena sakit.
   "Ini gara-gara si Lastri! Alasan saja, aku yakin sabtu ini dia ada janjian sama Mas Bejo tukang cukur sebelah! Jadi dia izin biar waktu bermesraannya bertambah panjang." Terus saja ucapan kotornya keluar dari mulut mungilnya.
   Antie ke luar masuk pasar. Baru kali ini dia masuk ke tempat yang dijulukinya "Mal Seribu Satu Malam". Bagaimana tidak? Sejak kecil dia selalu diajak ke pusat perbelanjaan yang banyak disebut-sebut sebagai tempat modernitas. Antie memang sedari kecil dididik untuk menjadi anak gaul super globalisasi.
   Becek, bau, dan suasana gelap membuatnya seakan melayang ke dunia lain. Ke sebuah negeri impian penuh dengan limbah pabrik yang dialirkan ke sungai-sungai.
   "Mama ... aku pengin balik ke rumah."
   Seminggu ini, keluarga Antie pindah rumah. Kalau dulu mereka hidup di kota, karena ayahnya mendapat tempat kerja dan jabatan enak, namun kali ini mereka harus hidup di kampung. Ayah Antie termutasi ke desa terpencil. Dan ini membuat Antie setengah mati untuk beradaptasi.
   Maju mundur dia di pasar itu. Mau tanya di manakah penjual sayur kangkung, tapi dia malu. Mau tanya si Abang tukang ojek, dia takut nanti diajak ke sebuah tempat dan "diperkosa", mau tanya si tukang parkir tapi dia jijik, semua pikiran itu menyatu.
   Aku tak tahu kangkung itu seperti apa?
  
Keakrabannya dengan makanan barat; junk food, burger, milkshake, dan aneka hidangan khas penimbun lemak, menjadikannya buta terhadap sayur-mayur. Ditambah sepatunya yang kini terkena kotoran, menambah dia kali ini bulat mundur dari keramaian pasar tradisional.
   "Awas Lastri lusa! Aku omeli dia sampai puas."
   Akhirnya Antie pulang ke rumah tanpa hasil apapun.
   "Maaaa ... aku nggak temukan kangkung di pasar!" Teriak Antie. Padahal di sana banyak kangkung dan aneka sayuran segar.
   Potret dunia sesungguhnya.

Terinspirasi dari cerita nyata ibu-ibu di dalam angkot.

6 komentar:


  1. Baru kangkung tu, belum lagi daun kari, beluntas, kemangi, genjer, sawi,....... Plus lengkuas, kencur, brotowali, kunyit, kemiri....... Apalagi yang susah-susah macam klabet, bunga lawang, asam sunti, bawang batak, andaliman.........

    Alangkah celakanya engkau, Antie..... Hidupmu tergantung pada babu.

    BalasHapus
  2. Hehehe.... Berusaha menjadi suami yang meringankan beban istri...... Bah.

    BalasHapus
  3. Aku dukung polah tingkahmu, Nak!

    BalasHapus
  4. Nak, menyusu ibu dulu deh sana .... hahaha

    BalasHapus