Header Ads

Bandung, Sebuah Zona Makan Darurat!

"Baso tahu, euy!" lonjakku kegirangan melihat si Amang yang sedang mendorong gerobagnya. Tak biasanya aku menemui berbagai penjual penganan silih berganti di depan kosku.
Di menit pertama; ada penjual batagor yang asoy geboy memanjakan perutku.
5 menit berikutnya; ada penjual bajigur yang memang terasa sangat cocok di mulut mungilku.
Lima belas menit kemudian, kadang kutemui penjual rujak aneka buah.
Setengah jam berikutnya, tukang sol sepatu juga numpang tampang ... hehehe

Tapi, kalau orang yang tak bertanggungjawab menasbihkan Bandung sebagai kota sejuta penganan, jawabannya adalah sungguh tepat dan bangett. Karena eh karena ... Minuman itu haram. Ahhh, ya itu ... banyak sekali makanan yang enak-enak.

Kali ini, pandanganku terfokus pada abang tukang baso. Ada apa, sih, dengan si Amang itu?  Sebenarnya, dia ga spesial banget sih ... Loh, apa-apan ni?! Yang bikin ngiler itu adalah barang yang selalu ditenteng ke mana-mana sama si Amang itu. Wah, tambah eror... "Ya, apaan?" tanya para penggemar fanatikku. Mmm, Ya ... bulatan-bulatan itu ... Oalah, ternyata baso tahu itu tho! Ya, iya lah... Apalagi selain di Mc Dangdut!

"Berapa, Mang?" tanyaku dengan nada dilembut-lembutkan agar memesona.
"Lima ratus rupiah saja, Cep," dia memanggilku dengan sebutan Encep.
"Loh, kenapa aku dipanggil si Encep?! Kan, ga keren banget," batinku. Tapi setelah diusut makin kisut, panggilan itu adalah panggilan setara Raden Mas Haryo Mas Ngabehi Penangsang di genting rumah. Ya, panggilan bagus gitu lah...
"Oke, saya borong 2500 rupiah, Mang!" Kata borong ini cocok ga ya, dengan nilai nominal sebesar itu?
"2 siomay, 1 tahu, 1 pare, dan 1 kubis." tambahku mantap.


Seperti kebiasaanku, aku selalu membeli makanan untuk dikemas secara cantik dengan plastik. Selain dengan alasan kebersihan, karena biasanya piring tukang dagang keliling buat bergiliran pelanggan, aku juga memerhatikan tingkat keasyikan dan keenakan. Ehmmm .... Sobek dengan gigi dan langsung kenyott ....

Ini sebagai perbandingan saja dengan kotaku tercinta dan terlunta-lunta ... Sorry, dab ... YK alias Yogyakarta. Kota ini, harga makanannya murah tapi biasanya rasanya menjadi nomor buntut sapi. Di belakang sendiri. Tapi, di Bandung ... Apapun makannnya, minumnya selalu air putih. Sehat, kan!

Yang pasti, surga makanan ada di Bandung, hampir 90 persen diskon 30 persen dengan jaminan sertifikat tanah, wah ... jadi ingat utang bank kemarin. Oke, oke, betul banget!!! Surga dalam tanda kutipan, dan itu pun khayalan.

Sebetulnya, surga makanan itu ... ya, ada di lidah kita sendiri. Kalau kita merasakan kenikmatan makanan, walaupun nasi+garam, ya tetap itulah surga makanan. Yang patut digarisbawahi adalah "Apapun makanan kita, jangan lupa bersodakoh!" , Ingat itu pesanku ... Heh, jangan ketawa, dong! Ini serius .... Hik hik ....

Wah, ada suara apa lagi itu?
"Ssss ... aaa ... tttt ... eeee!!!"
sateeee ..... ternyata sate ayam ...
Perutku kok masih lapar, ya!@#$$

"Mang, sate sembilan tusuk!"
Ngeces ya penonton .... mangga, ayukkkkk ..... makan













12 komentar:

  1. aduuhhh makan mulu...jadi pengenn
    inget coy tar badan jad meledak, mending di bagi2 ma dana :p

    BalasHapus
  2. yah ... mending yang bedah badankuw ... daripada yang jadi gembul si nona dari negeri nan jauh di atas awan. hehehe

    BalasHapus

  3. Cibi Condimentum Est Fames??? Rasa Lapar Adalah Bumbu Setiap Hidangan???

    BalasHapus
  4. ah sebuah alasan buat orang2 yang suka makan alias .....

    BalasHapus
  5. bukan gembul, melainkan Rakus.
    Na na na na aku bukan boneka boneka!

    BalasHapus
  6. Hehehe..... Iya, sepertinya rakus atau congok lebih tepat.
    Na na na na aku benci boneka boneka!

    BalasHapus
  7. jangan ngikutin tren dong
    kalimatmu ga kreatibbb hahaha

    BalasHapus
  8. Lah, sapa bilang saya kreatib >:p

    BalasHapus
  9. alhamdulillah sadar ... hahaha

    BalasHapus