Header Ads

MBAH GITO



Mbah Gito mengaku ia berusia 76 tahun. Pikiran saya langsung melesat ke merek rokok kretek 'Djarum 76' dan saya sangkakan si Mbah Gito yang kemarin siang di hadapan saya perokok berat. Tapi tidak! Ia penginang tampak dari bibir dan giginya yang merah. Ada cerita menarik darinya yang berjualan di Pasar Gejayan Jogja. Sekira setengah jam saya bercakap cakap dengannya.

'Saya jualan dari jam sembilan sampai lima sore, Mas.' Mbah Gito menjawab pertanyaan saya yang memilih paket sayur sop seharga seribu rupiah. Ia memakai bahasa Jawa dan saya terjemahkan di sini untuk Anda mengerti percakapan kami.

'Rumah di mana je, Mbah?' tanya saya nyaris terpeleset akan pakai sapaan 'Tante'.

'Klaten, Mas. Saya ikut mobil jemputan.'

'Berapa ongkosnya, Mbah?'

Ia menyodorkan empat jari tangannya sambil tersenyum pada saya. Empat ribu saya pikir. Jadi, pergi balik delapan ribu. Saya mengamati dagangan Mbah Gito yang tak seberapa. Sayuran, dalam benak saya, untung berapa? Apakah cukup untuk menutupi ongkos perjalanan dirinya. Ah, logika untuk hal seperti ini tidak berlaku. Pikiran ruwet saya yang bertumpuk tumpuk kesibukan tak bisa diterapkan dalam kasus Mbah Gito.

Mbah Gito menceritakan jika delapan anak anaknya sudah berpencar ada yang di Riau, Jakarta, Kalimantan jadi orang enak melebihi dirinya. Hanya si bungsu yang tinggal bersamanya.

'Kenapa tidak di rumah saja, Mbah? Toh anak anak pasti kirim uang. Mohon maaf.' tanya saya.

Ia tak tersinggung dengan pertanyaan saya yang saya akui sendiri menukik dalam. Sejatinya tak pantas saya bertanya begitu. Mbah Gito menjelaskan biarkan anak anak mengurus keluarga dan menjadikan putra putrinya lebih sukses.

'Yang penting Mbah bisa cari sendiri, Mas Danie.' Mbah Gito memancarkan kepercayaan dirinya seolah pengin membagikannya pada saya.

Pun saya tertarik dengan busana Mbah Gito yang memakai semacam batik' yang tidak moderen katakan, berwarna hijau. Ia memakai jarik. Saya tanya, sejak 45 tahun lalu ia berjualan pakai pakaian seperti itu.

'Empat puluh lima tahun, Mbah?' Saya membelalak.

Ia mengangguk.

Kembali saya takjub oleh Mbah Gito. Jam dua belas siang kemarin pasar lengang dan saya kata si Mbah tidak mengganggu kesibukannya. Perempun uzur yang ada di depan saya yang masih bergas memberikan pelajaran jika ketekunan membuahkan hasil. Saya belum seberapa dirinya.

'Saya melakukan ini buat hiburan.' tambahnya. 'Tiap tiga bulan sekali saya nyinden di Keraton.'

Bravo .... saya mendapatkan kunci jika menjalani sesuatunya dengan senang walhasil berujud kebahagiaan yang lebih. Tentu ikhlas saya tebak ada dalam diri Mbah Gito.

Sayur sop, tempe, tahu, singkong, dan bumbu bumbu sudah saya pilih. Saya mengucap terima kasih pada Mbah Gito untuk masuk ke pasar. Mbah Gito berjualan di area depan. Saat saya berjalan, saya menganggap ruh almarhumah nenek saya muncul lewat Mbah Gito. Ya, dia!

Tidak ada komentar