Header Ads

Seorang Muslim di Misa Natal (Bagian Tiga)

 
Teringat aku oleh almarhum Kiai Sulaeman, guru mengajiku waktu kecil, saat masuk halaman Gereja Santo Yakobus ini. Jika saja Baba Leman, begitu panggilan sayang kami santrinya, masih hidup, ia akan kuajak berputar putar mencermati orang Katholik beribadat. Tapi aku sangsi dia mau karena ia pernah bilang begini:
'Orang Nasrani kelak akan hangus di neraka. Yahudi, musnah!'

Kuperhatikan mimik Baba menegang. Tongkat panjang yang biasa ia pakai memukul punggung tangan kami jika salah mengeja ayat bergerak gerak. Kutarik badanku ke belakang waspada jika saja Baba kalap.

'Orang Muslim saja yang berhak masuk surga!' tambah Baba.

Murid murid lain tampak tersihir oleh perkataan Baba. Mereka mendongak dalam mulut membuka. Baba berdiri membungkuk, sesekali batuk, di tengah anak anak didiknya yang bersila melingkar.

Aku mendapat kabar setahun lalu jika Baba menghadap Allah. Kaget, sedih, dan mangkel pada diriku sendiri bercampur aduk saat kupulang melayat Baba. Ini karena kesombonganku tiap pulang kampung jarang menjenguknya.

'Baba tidur cantik.' kata Soleh teman mengajiku waktu kecil.

'Maksudmu?' tanyaku. 'Kenapa kamu pakai kata cantik?'

Aku terlambat sampai rumah duka dan Baba telah dikubur. Tak sempat kulihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Maafkan aku, Ba.

'Baba tersenyum, Danie. Dan seminggu sebelum meninggal dia mencari carimu.'

'Aku?'

Semakin tenggelam ke memoriku. Baba memang dekat denganku dan menjulukiku "bouraq". Aku tak paham dan jika Baba kutanya ia tak mau menjelaskan. Atau mungkin karena kecepatan berpikirku? tanyaku waktu itu yang membeku di masa sibuk kerjaku dan muncul sekarang.

'Baba kangen kamu, Dan!' seru Soleh sambil mengulurkan satu amplop. 'Wasiat Baba untukmu.'

Kubuka dan baca:

'Maafkan aku untuk kalimatku waktu kecilmu, Ananda Danie. Kurenungi dalam dalam, tak bijak dulu aku mengatakan si Fulan masuk neraka, kita jaminan surga. Tak ada yang tahu. Tugas kita sekarang: berbuat baik tanpa berpikir yang aneh aneh. Allah sang Penilai Teradil.'

Air mataku meleleh di dekat Soleh. Sama sekarang aku menangis saat mendekati seorang ibu jemaat Katholik di gereja ini di depan ruang P3K.

'Baba, aku pengin kita melihat misa Natal dan nanti kita diskusikan sepulang rumah!' batinku.

-----

Mengobrol teduhlah kita di www.rumahdanie. blogspot.com

Sumber gambar: wgunawan88.blogspot.com


Tidak ada komentar