Header Ads

Mumi mumi dalam Museum Bernama Atlet Indonesia

Atlet berjibaku. Medali diburu. Untuk dikenal dunia. Tak oleh penghargaan dari pemerintah. Karena jika hanya ingin dikasihani, jatuhlah pada kecewa. Atlet adalah juga seniman. Olehnya keindahan juga kekuatan ditunjukkan. Dengan sepenuh semangat, tak ada ragu, terus melaju.

 Atlet Nusantara binasa. Dielu elu saat jawara, dibuang seperti sampah penuh cacian. Seluruh anak bangsa menginginkan kepuasan. Tak terkecuali para pemimpin bangsat. Hanya berongkang ongkang, menjentikkan jari, selanjutnya umpat meluncur dari mulut mereka jika kehendak tak dipenuhi. Oleh atlet atlet yang sempoyongan tak bergizi. Karena mess tak memiliki dana untuk memperbesar otot otot anak anak didiknya. Betapa bedebah Mentri Olahraga yang bercuit cuit, berkoak koak laksana burung gagak siap memangsa daging busuk.

 Atlet tua Nusantara menuju binasa. Mampus berkalang tanah tak punya sertifikat tanah kubur. Ditandu hanya oleh tetangga yang kadang mengerutu. Dan semat bintang jasa dijual untuk melunasi biaya penguburan. Selanjutnya waktu menghapus segala memori. Tak ada lagi si Fulan yang menjadi kampiun Asia, Dunia, Alam Semesta Raya. Karena semua sudah beramnesia. Lupa segalanya. Berganti dengan pahlawan baru yang lebih muda, energik, dan memincut hati.

 Atlet muda, atlet tak ada harapan. Berganti pelatih, berganti pola. Bingung dibuat, para konselor tak mampu menata emosi mereka. Semua bangkrut. Secara kejiwaan juga material.

 Nusantara tak beratlet hingga tujuh puluh lima tahun. Hanya atlet goyang erotis yang ditepuktangani, yang abadi di sanubari para anak negeri.

 

Tidak ada komentar