Header Ads

Renyah Gurih Obsesi Mukti

Terkadang saya menganggap perceraian itu adalah berkah buat saya. Bukan lagi aib. Berpikiran jika seorang janda adalah pantas untuk lenyap dari pandangan orang orang sekitar, agaknya membuat diri saya makin dalam di suatu penderitaan. Dan saya tak ingin terus tenggelam di satu kata, perceraian. Saatnya saya bangkit. Bersama anak saya, menghidupi dia dengan sepenuh jiwa dan kasihsayang yang saya punya.

Perkenalkan, saya Mimin. Nama desa saya Mukti. Ibu dan Bapa memanggil saya Mukti. Mereka mendoakan saya dari nama, semoga saya menjadi orang yang mukti, berguna bagi orang lain. Tapi dasar saya tak tahu untung, tak puas saya ganti nama panggilan saya menjadi Mimin. Lebih enak di telinga dan akrab. Teman teman juga sewaktu kecil akrab memanggil saya Mimin.

Apalah arti sebuah nama, Pujangga Shakespeare berpesan. Tapi saya beranggapan lain: Nama memberi berkah. Terutama di dunia bisnis kecantikan yang tengah saya geluti. Dan saya memilih menggunakan nama pemberian Bapa Ibu saya: Mukti Salon. Alasannya, Mukti lebih dewasa. Sudah keluar dari masa kelam. Bertransformasi dari Mimin Kecil. Menggapai cita cita dan mimpi yang saya terbitkan sedari kecil: Penata Rias Andal.

'Ikuti kata hatimu, Nduk. Seriuslah kalau kerja.' petuah Bapa dan sering saya dengar di saat saya terpuruk. Mendadak saya menjadi bersemangat kembali.

Ibu selalu menepuk pundak saya. Menandakan jika beliau merestui, sama dengan apa yang Bapa berikan matra kepada saya. Dunia serasa berbalik arah mendukung saya. Selain anak saya tercinta, kedua orangtua saya adalah aset yang memberi saya oase di kala kerongkongan membutuhkan sekadar air.

Usaha yang saya rintis sudah mulai berkembang. Pesat. Satu pegawai saya didik. Berniat ingin berbagai ketrampilan. Bagi saya, sangatlah penting menyalurkan ilmu yang pernah saya dapat saat bekerja di salon salon kecantikan. Karena ustaz saya berwejang, 'Ilmu jika dibagi akan menjadi berlipat.'

Sekarang, tugas saya mendidik anak saya. Saya sangat paham jika perceraian tentu amat membekas pada anak anak yang ditinggal kedua orangtuanya. Untuk saat ini, saya memang menitipkan anak kepada kedua orang tua, eyang si Adik. Tapi saya berpikir kembali: Apakah saya terlalu egois menitipkan anak sedangkan saya sibuk memuaskan diri dengan mencari uang? Pertanyaan yang tidak mudah. Dan saya merenung setiap malam. Belum ada jawaban yang saya dapat. Shalat istikharah setiap dini hari, belumlah saya mendapat jawaban. Mungkin saya harus menata diri saya agar lebih ikhlas menerima kenyataan hidup. Dan tentu dengan niat membahagiakan kedua orangtua dan anak saya.

Untuk sementara, saya fokus terlebih dahulu menata karir menuju penata rias berkaliber nasional. Mengasah kemampuan, berdoa, dan tentu melebarkan jaringan yang harus saya bangun. Karena, kesuksesan saya tidak sendiri. Bersama orang lain.



























Tidak ada komentar