Header Ads

Gigolo 2020

Apakah saya harus menjual badan ini untuk bertahan hidup? Melepas raga untuk mereka yang haus oleh kenikmatan. Semu dan melenakan. Hanya beberapa saat dan selebihnya mencari kembali kepada mereka yang sudi menangkapnya. Oh Tuhan, barangkali, saya sudah buta mata karena terhimpit oleh kenyataan. Akankah saya melakukan hal biadab seperti itu?

'Ada yang kau lupakan saat ini?' Ustadz saya memulai pembicaraan. Setelah saya tak mampu mengucap satu kata pun di depannya. Takut jika semua yang akan saya keluarkan, justru membuat ia tak berpikir rasional. Terlalu banyak ayat yang akan ia lemparkan kepada saya. Dan saya tak mampu untuk mencernanya. 

'Sudahkah shalat lima waktu kau bangun?' 
'Belum sepenuhnya, Ustadz.'
'Mengapa kau belum melakukannya? Aku sudah mengajarkan seluruh ilmu yang kau inginkan.'
Betul juga, sang Ustadz mulai menghakimi saya. 
'Saya masih kacau, Ustadz.' Menghela napas, dan gelisah, mata saya cenanangan ke sana ke mari. Pikiran saya sudah tak jernih lagi. Yang saya harapkan dari diskusi ini sebenarnya, saya ingin meminta bantuan bagaiamana mengurai permasalahan. Bukan untuk ditegur secara kasar. Saya bukan budak yang dengan ikhlas menerima hardik. 
'Baiklah, Nak. Sepertinya kau punya masalah besar. Katakanlah Nak. Ustadz akan mendengarkan.'
Ia berubah posisi, mengambil tempat duduk lebih dekat. Ustadz yang memercayai saya, dan pernah mengatakan jika saya adalah aset yang baik. Namun perlu bimbingan agar kemilau tak meredup. Justru meningkat pesat. Saya awalnya tak percaya, bagaimana mungkin orang seperti saya dipercayai oleh sang Ustadz. Terus terang, saya masih belum mampu memahami kepercayaan itu. 
'Saya ingin menjual diri saya, Ustadz.'
'Astaghfirullah. Itu perbuatan dosa Anakku.'
'Tak kuat lagi saya bertahan dengan nilai nilai yang Ustadz ajarkan kepada saya. Lelah Ustadz. Prinsip ini menjadikan saya monster.'
Ustadz melotot. Saya melihat kesepuluh jarinya bergerak gerak, seolah ingin menampar saya. Jika ia menghukum saya, dengan sukarela saya serahkan pipin kanan ataupun kiri. 
'Kau salah memahami apa yang aku berikan. Jangan menerima dan memasukkannya secara mentah mentah.'
'Jadi saya seharusnya bagaimana?'
'Ya Allah. Saya salah kalau begini. Kau memang berbeda. Sejak awal aku melihat kau berbeda. Kau jenius tapi tak jarang melupakan hal kecil. Begini akibatnya. Kita harus mencari jalan agar kau tak punya niat melakukan tindakan itu.'
'Baik Ustadz.'
'Pelajaran yang kita diskusikan tempo lalu, kita ubah semua. Kita cari konsep yang lebih baik. Tapi berjanjilah kepadaku Nak, kau tidak melakukan tindakan itu. Itu dosa.'
'Baik Ustadz.'
Beberapa kali saya mengucapkan kata baik. Baik. Dan baik. Semoga menjadi baik.




8 komentar: