Header Ads

Ada, Mengadalah

Jangan hentikan saya dengan ilusi yang kau jebakkan. Membuat saya tertahan, tidak lagi berlari untuk mengejar mimpi yang saya terbitkan. Kau menahan, menjadikan saya linglung, tak mampu untuk berpikir rasional. Semua kau cipta agar saya tenggelam dalam ceria cerita romantis yang sesungguhnya semu. Berhalusinasi di dalam masa hibernasi yang panjang.

Selanjutnya, saya bangun berikut pikiran yang kosong, tak lagi memiliki pemikiran pemikiran yang tegas. Melembek, dan serasa hidup suri. 

Bunga, bunga. Mekarlah untuk dilihat para pecandu keindahan. Racun, racun, keluarlah kau dari mulut para melata, atau pengucap segala keberingasan hidup bernama manusia anti keadilan. Juga mutiara, keluarlah kau sendiri dari cangkang, hendaklah kau tak berada di leher para borju tak kenal manusia, tak mengerti sifat kemanusiaan. Sayap, sayap mari terbangkan imaji para penidur yang sering berkhayal meraih kesempatan gelap menerbitkan seorang diri. Tak memedulikan orang lain. 

Penjahat berguling di lantai bui. Meratapi lambat waktu tak kunjung membuka pintu bangunan penuh setan pelibas hidup sesama. Menggaris tembok dengan kuku, 'Ini bulan apakah?' Dan tidur tidur panjang, mengisi hari dengan berkarya bakti mengikuti perintah para sipir. Makan makanan yang telah disediakan layaknya para broiler menunggu jatah dari peternak yang menakar dengan pasti. Tak ada gram gram yang lebih. Itulah hidup yang selalu berulang percuma. 

Bangkit, majulah menawarkan pemikiran pemikiran brilian. Meski mata memicing pasti kau temui. Berikut dengan pujian yang melenakan, 'Kau hebat. Otakmu cemerlang.' 
Sungguh, penyakit yang paling ampuh untuk menyegerakan kematianmu adalah tenggelam dalam puji yang membuatmu lena.
Layaknya? 
Mengisi hari dengan kreasi. Lebih mewarnakan hari. Lebih dan lebih. 
Karena kau ada, mengadalah. 





Tidak ada komentar