Header Ads

Tukang Masak Stres

    Aku tidak habis mengerti mengapa harus terjadi. Sebuah cerita aneh tak berorientasi dan tak bermutu. Andai aku tahu dia yang di sana merindukanku, aku pasti mengirimkan sebatang rokok untuk dinikmati bersama. Bibirnya yang berlipstik merah menyala berbagi tembakau denganku. Aneh yang pasti.
    Dia seorang tukang masak di hotel internasional. Mukanya berminyak, saking akrabnya dengan bumbu-bumbu dapur. Matanya berair, terlalu mencintai bawang bombai. Hidungnya merah, akibat berkolusi dengan tomat. Tubuhnya kerempeng, memikirkan masa depan yang kacau. Manusia yang antik dengan giwang di dua telinganya dan cuping hidung sebelah kiri.
    Aku mengenalnya di pasar impres Blok C no. 547. Kebetulan aku tengah menunggu pelanggan yang sudi naik motor ojekku. Rasanya hari muram sekali, susah sekali menggaet ibu-ibu, mentari pun galak bersinar. Kukipas-kipaskan tanganku, kulihat sekeliling pasar. Ada perempuan menor dengan baju yang aduhai. Tak kuat mataku menahan silaunya cahaya mentari, aku beralih pandangan.
    Dia membawa sebuah keranjang, terjuntai aneka sayur mayur dan buah-buahan melesat mengarah mataku. Sepertinya dia telah selesai berbelanja. Aku tak berharap dia menggunakan jasaku. Mana tahan, ukuran perempuan itu di luar jangkauan nalar. Jika membonceng motorku, dijamin sebagian badannya tak mendapatkan hak secara benar. Kuberpura-pura mengalihkan perhatian. Jangan saya, teman ojek saya saja, begitu aku memohon kepada Tuhan.
   



8 komentar:

  1. "Bang, anterin ke kuburan Cipete dong......"

    Whoa!

    BalasHapus
  2. Gigi lu emas ga?
    Kalau emas, mau tak anter ...
    Sampai sana, aku cungkil! Kujual di tukang emas emperan hehehe

    BalasHapus
  3. Kau sadis. Puasa kok tambah sadis.

    BalasHapus
  4. Oh maaf, Mbah.
    Secara imanku baru terpelanting ke sana kemari.
    Tangkaplah dan cucilah dengan deterjen

    BalasHapus
  5. Ah, cucianku sudah cukup banyak!!!

    BalasHapus
  6. Ya pasti lahh ...
    Orang metropolis lebih suka bersolek. Orang desa yang cari nafkah bagi mereka.
    Devisa tiada tara hahahaha

    BalasHapus