Header Ads

SENI BERBICARA LARRY KING



'Larry King yahudi?! Kenapa kau beli buku itu!'

Saya terperangah dengan ucapan teman kantor saya yang membuat telinga saya panas. Namun saya tak mau terpancing dengannya, alih alih saya meredam emosi agar tak menyulut pertempuran lebih parah lagi.

'Larry King bukankah manusia juga? Toh saya tak berminat juga jadi istrinya! Sudah tua, delapan puluh tahun lebih. Badan tinggal tulang. Nggak enak lah ....'

Kalau berbicara soal politik Timur Tengah yang katanya akan langgeng sampai hari kiamat, saya tidak tertarik. Saya hanya ingin membaca pengalaman hidup seorang Larry King yang kesohor sebagai Raja Talk Show Amerika Serikat. Ia merintis karirnya dari nol, mulai dari kerja serabutan di sebuah kantor kecil, merangkak hingga siapa saja mengenalnya.

Larry King benar ia anak seorang imigran Yahudi yang masuk ke Amerika Serikat karena Perang Dunia I. Namun ialah juga manusia yang punya sisi humanistik dengan kegmilangan karirnya patut saya cermati lewat  buku Seni Berbicara terbitan Gramedia pada 1995. Wah, saya ketinggalan berapa tahun, ya? Hampir 20 tahun!

Di sini, King membagi resep bagaimana menampilkan citra positip ketika berinteraksi dengan orang lain lewat seni bertutur yang ia formulasikan selama bertahun tahun. Kepiawaian King di televisi dan radio, sedikit banyak ia tularkan di buku yang tak tebal ini. Ada beberapa tip yang bisa kita ambil kunci suksesnya:

★ Merebut simpati orang yang kali pertama kita ajak berbincang
★ Menyampaikan berita buruk dengan jitu yang tidak menjatuhkan mental
★ Mengatasi rasa malu dan membuat orang lain merasa nyaman
★ Memesona dengan humor, dan masih banyak lagi.

Tak serta merta membaca buku ini langsung reputasi kita melejit atau kita fasih bercasciscus. Semua buuh latihan, bukan? Seorang Larry King menceritakan jika ia jatuh bangun membangun karirnya. Ia terus belajar dari kekurangannya dan terus optimis dengan gift yang Tuhan berikan berupa suara. Larry King sadar modal emas suaranya, mengetahui passionnya, lantas meroketkannya.

Buku mungil seharga 49.000 ini sungguh cocok bagi saya karena saya lemah dalam berseni mengobrol. Jika Anda menemui saya secara fisik, tak akan Anda menemukan saya secerewet di tulisan tulisan saya. Saya cenderung diam dan lebih mendengarkan atau terbilang pasif berbicara. Namun dengan tuntas membaca buku ini, insyaAlloh saya akan membuat Anda terkejut karena bahasa saya sebelas dua belas sama Larry King. Harapan saya, sih.

Oya, kalau kita bisa beli rokok seharga 15.000 per bungkus bahkan dua setiap harinya,  yuk puasa barang tiga bungkus biar bisa beli buku bagus ini! Kan asyik kalau obrolan kita lebih gayeng pas nongkrong sembari ngudud dan minum kopi. Tapi, kalau kumpul sama perokok, saya akan pakai masker, ya?

2 komentar: