Header Ads

Sebuah Kata Pensiun untuk "Mata Kucing"


'Terima kasih, Mata Kucing!' ucapku lirih pada kacamataku yang telah menemaniku selama hampir lima tahun.

Ia mengilat ngilat oleh sinar neon di Optik Yogya ini. Kuletakkan kacamata di meja dan kupandangi bingkainya yang mengelupas di sana sini. Ajaib adalah kata tepat bagin Mata Kucing karena telah menemani hari hariku meski sekarang aku menduakannya dengan kacamata baru. Sejujurnya, tak tega mencampakkan Mata Kucing dan menggantinya dengan yang lain. Terlalu banyak cerita bersamanya hingga pernah kuberjanji untuk memakainya sampai kematian merenggut satu dari kami.

'Sebentar ya, Mata Kucing. Kamu di situ dulu, aku mengaca dulu dengan adik barumu!' seruku cekikikan yang disambut oleh petugas optik dengan bingung. 'Ini Mata Gajah, adikmu!'

Kuberi nama "Mata Gajah" karena bingkainya lebih tebal. Untuk model, hampir mirip. Melebar dengan bingkai bagian bawah  lurus untuk menyembunyikan gendutnya wajahku. Gampangnya, aku pengin mukaku tampak langsing namun tegas.

'Pencitraan itu penting, Bung!' kataku pada diri sendiri sambil meneleng nelengkan kepala beradu dengan cermin. 'Cakap nggak, Pak?'

Jelas si bapak penjaga membalas aku cakap. Gila banget kalau dia memberi komentar aku jelek dan tak pantas pakai kacamata, bisa bisa aku urung membeli kacamatanya.

'Sip, Pak! Ini saja.' seruku setelah mencoba puluhan kacamata lain yang berserakan di atas meja pamer kaca.

Sekilas kudapati Mata Kucing seperti murung. Kacanya meredup, jika manusia ia tampak lunglai. Ia sedihkah?

***

Awal pertemuanku dengan Mata Kucing pada 2008an. Saat itu teman teman kerjaku memberi hadiah uang dalam amplop yang lumayan banyak sebagai tanda pelepasanku berhenti kerja dari kantor sebuah penerbit terkemuka di Bandung. Ditambah pesangon yang kuterima tanpa mengeluh sedikitpun, karena ilmu menulis yang kudapat melebihi materi apapun, aku meluncur ke optik di Bandung Indah Plaza.

Dalam angkot, aku teringat ucapanku pada Mbak Dwi. Ia rekan kerjaku yang berhati baik dan bijak.

'Mbak, kacamataku sudah rusak. Mau beli tapi uangku nggak cukup!' ucapku.

'Danie mau beli kacamata?' ia malah bertanya.

Aku langsung menamengi diriku dengan tertawa lebar seolah menutupi kebutuhanku mengganti kacamata yang sebelumnya sudah rusak namun tetap kupakai. Instingku ketika itu mengatakan jika aku mengiyakan, pasti Mbak Dwi akan meminjamiku uang. Aku tak mau merepotkan orang lain.

Dan benar. Perseteruanku dengan sang manajer mungkin yang mengingatkan Mbak Dwi untuk mengumpulkan uang sumbangan katakanlah. Apa yang ada di amplop? Ada tulisan begini:

"Ini untuk Danie beli kacamata baru.'

Meledaklah emosiku. Jujur aku tak mampu menahan diri untuk tidak menangis. Bukan aku cengeng, tapi sungguh itu di luar perkiraanku. Hanya ada satu kata saat itu, aku minggat dari Bandung dan menenangkan diri di kampung halamanku, Purwodadi.

Sesampai di mal BIP, aku bergegas mencari optik. Kupilih ini dan itu, aku tertarik oleh kacamata yang kusebut Mata Kucing tadi. Dapat diskon sekian sekian dengan tawaran magis si penjualnya, Mata Kucing jadi milikku. Bersamaku, ia melanjutkan pengembaraanku setelah hampir dua tahun di Bandung kota yang telah memberiku banyak kenangan.

***

'Nggak usah sedih, Cing!' seruku pada Mata Kucing saat petugas optik menyiapkan nota. 'Pasti kau masih kupakai. Gantian sama Masmu. Mata Gajah!'

Ia sekali lagi mengilat bagaikan tersenyum padaku. Kupakai lagi ia, kupasang di mukaku, dan kubercermin:

'Nanti kubeli spidol permanen biar bingkaimu hitam lagi ya, Cing!' aku berseru kembali.

Sudah berapa hari ini spidol permanenku hilang. Kegemaranku memoles bingkai Mata Kucing yang mengelupas sudah tak kulakukan. Mumpung Mata Gajah belum sepenuhnya menguasai wajahku, habis dari Optik Yogya ini, kubeli spidol untuk mempercantik Mata Kucing.

'Ayo kita ke Gramedia, Cing Jah!' kuterima nota pembayaran dari petugas optik. Kami bertiga naik motor 3 in 1.

________________

Mengobrol teduhlah kita di www.rumahdanie.blogspot.com
Sumber foto: Daniera



Tidak ada komentar