Header Ads

Dunia Buku dan Musik Indonesia yang Sakauw

Tak hanya dunia literasi yang kehabisan ide, musik Indonesia juga memprihatinkan. Secara grup memang bertambah, tapi kualitas mengalami penurunan drastis. Pop bukanlah musik bodoh, justru genre genius yang pandai melihat potensi pasar. Tapi jika disertai penawaran musikalitas yang itu itu saja, berakibat tak baik bagi perkembangan industri musik itu sendiri.

Novel berbau Mesir, India, Timur Tengah, banjir dan diperebutkan banyak penerbit.
Musik bergaya Melayu tengah digandrungi anak anak muda.
Keduanya tidak mendidik insan Indonesia untuk berimajinasi. Padahal, kemajuan suatu negeri didukung dengan daya imajinasi yang mumpuni saat berkarya.

Mungkinkah ini disebabkan para pembuat keputusan tengah kehabisan ide? Atau, bermain aman agar perusahaan mereka tak dilibas krisis global?
Tak inginkah mereka menggarap pasar lain di luar kondisi tetap yang telah jenuh? Lalu dimanakah tanggung jawab mereka sebagai insan yang diberi giliran Tuhan memimpin?

8 komentar:

  1. Bagaimana kalo kembali ke Campursari Gunung Kidul (CSGK) ajah?
    Bagaimana kalo kembali nonton telenovela tayang di tipi tiap hari ajah?
    Bagaimana kalo baca kopingho yang jadul ajah?

    BalasHapus
  2. Ealah Marichuy kau anggap apa?
    Campur sari GK ga ada yang cuma pakai kutang? Lengkap plus gelung, apa menariknya?
    Kopingho? Udah dimakan kutu buku. Kan dah ada internet.

    BalasHapus

  3. Marichuy sendiri tak beregenerasi, pemainnya banyak yang dulu main di Maria Mercedes dan Maria Cinta yang Hilang. Kau pikir yang dangkal ide hanya bangsa ini saja?

    BalasHapus
  4. Baru tahu aku. Ternyatah!
    Kau menontonnya.
    Berarti memang AS ama geng baratnya layak jadi acuan. La mereka ikhtiar tanpa henti. Kita? Cih, baru di Phk dah cacingan. Guwe kalik

    BalasHapus

  5. Yang jelas aku nonton Marichuy bukan mau lihat jalan ceritanya. Aku pen liat daging. Titik.

    BalasHapus

  6. Pengennya aku yang njagal, wuahahah.... :p~~~~

    BalasHapus