Penambang Batu Bara Curhat (Sebel sama Penambang Minyak)
Setahun yang lalu aku pernah bangga saat pemerintah menggalakkan budaya penggunaan batu bara. Aku merasa mungkin kali ini hidupku akan terangkat. Tak hanya menjadi penambang batu bara, barangkali aku bisa menjadi pengusaha. Ya, pebisnis batu bara. Aku pernah bercita-cita seperti itu seiring tingkat kepercayaan masyarakat akan arti pentingnya batu bara.
Tapi apa yang terjadi, batu bara hanya digunakan perusahaan-perusahaan pengeruk keuntungan sepihak. Yang menyalurkan limbah-limbah produksi mereka ke laut, sungai dan air tawar di dalam tanah. Aku merasa muak dengan keadaan ini. Penambang batu bara hanya dianggap seperti sampah.
Ini semua karena para penambang minyak. Mereka culas mengeruk keuntungan dan tak pernah berbagi dengan orang-orang sepertiku. Batu bara hanya menjadi sebuah program yang sebulan kemudian menjadi omong kosong.
Beruntunglah aku di saat krisis energi listrik di negeri ini. Setidaknya kekesalanku terbayar oleh gelapnya alam Rindunesia. Menertawakan kelakuan umat yang lebih mementingkan minyak yang tak terbarukan. Tuhan Maha Adil.
Aku Lubis, bukan Batubara. Horas.
BalasHapusBeuh ... ke luar deh sensitivitas berbau kesukuan!
BalasHapusMas, kan kau yang ngajarin; banggalah dengan identitas. Apakah aku terdengar rasis?
BalasHapusO tidak Dik ...
BalasHapusMaafkan aku yang ga Konstituante ...
Secara lembaga itu sudah masuk liang kubur .... hihihi
Oya? Masuk kubur? Korban R, Si Penjagal Pencinta Seks Sejenis itukah?
BalasHapusSsttt ... ikut2an media saja!
BalasHapusHah?!! Oh, maafkan aku!!! Aku hampir terseret arus!
BalasHapusYaaahhh .... ada kayu tuh .... tangkap!
BalasHapusEmang Koruptor???