Minggu, 28 November 2010

Berkirim Selimut dan Surat kepada Simbah di Alam Kubur

Simbah di sana pasti baik baik saja kan? Di pusaramu, pastilah dirimu sedang bermain main dengan nenek nenek jompo. Yang mereka sudah berpisah lama dengan anak dan cucu cicit. Entah karena frustasi anak cucu bawel, atau berpikiran tak mau menyusahkan orang orang. Simbah, aku bapa ibu dan adik adik tak pernah berpikir memasukkan dirimu ke Panti Wredha. Dan, diujung perpisahan kita, tetaplah Simbah bersama kami. Hidup dan mati bersama kami.

Simbah, kukirim satu selimut melalui mimpiku. Berstrip strip merah muda, tebal, untukmu tidur di saat hujan seperti ini. Atap kijing sepertinya masih tak mampu menahan air hujan. Dan tanah masih bisa meluluskan air dan membasahi badanmu di dalam rumahmu. Di alam yang lain dariku Simbah. Anggaplah selimut ini sebagai sekadar penahan dingin. Dan, air hujan aku yakin tak sampailah ke tubuhmu Simbah.

Simbah, bersama selimut itu, aku kirim pula selembar surat tanpa amplop dan perangko. Tapi, bukankah Simbah buta huruf di dunia? Tapi lagi Simbah, aku yakin jika di dalam peraduanmu telahlah para malaikat menemanimu. Mengajari macam macam huruf, membuatmu bisa membaca, dan kini dirimu sudah bisa membuat nota jual beli. Karena aku masih ingat, dirimu adalah penjual ulung. Meski kami sudah menjamin kehidupan tuamu, tetap dirimu memberi kami contoh. Jika hidup adalah bergerak. Yang tak boleh berhenti, selalu berbuat tanpa harus meminta pamrih atasnya. Simbah, aku yakin dirimu pandai di sana.

Terlalu banyak cerita bahagia bersamamu Simbah. Dan membuat kekurangan dirimu tak lagi layak untuk diceritakan. Karena itu memang tidak perlu diungkit lagi. Kelemahan adalah untuk diperbaiki bagi mereka penyambung semangatmu; yaitu aku bapa ibu dan adik adik.

Menuju setahun kembalinya Simbah.


Padepokan Cenayang Tiga Raksa

Tiga cenayang muda menimba ilmu. Di Padepokan Tebu Ireng. Yang bukan Pesantren tersohor di Jawa Timur. Padepokan yang ditempati tiga cenayang dalam bayang adalah terletak di kaki Gunung Ciremai. Mereka yakin, di situlah tempat Nini Pelet bersemayam. Aura magis Nini ingin diserap mereka. Karena yakin, segala hambatan dienyahkan oleh mereka. Seperti bagaimana mencuci baju tanpa deterjen, mereka memanfaatkan hasil alam untuk membersihkan. Entah tanaman apa yang dipakai mereka. Yang pasti, semua dirahasiakan.

Tak ada pelatih. Guru supra natural tak ada. Mereka belajar otodidak dari alam. Mencermati kejadian, menemukan isyarat isyarat yang disebarkan Sang Agung, tanpa mengerti kapan itu akan diberikan. Sewaktu waktu harus siaga. Jika tidur pulas, tak dapatlah jalan hidup yang mencerahkan. Bagi mereka bertiga. Dan tak berlakulah mereka untuk nanti meneruskan kepada orang lain. Tentu dengan bahasa yang lebih sederhana. Tidak yang carut marut, buram, dan penuh teka teki dari awal yang diterima. Sinyal kehidupan, tanpa bertentangan dengan Sunnah yang sudah Terbukukan.

Janganlah berpikir ini adalah syirik. Tiga cenayang muda hanya melakukan kerja. Yang tak bisa dijelaskan secara gamblang. Namun ada semacam yang menggerakkan diri mereka. Suatu kekuatan luar biasa yang menunjukkan kepada mereka jika haruslah bekerja secara bersama. Tidak satu persatu, karena itu tidak memberikan hasil yang maksimal. Tentulah, ketiga cenayang muda itu saling memberi sinyal bagaimana menuju tempat harapan.

Dua lelaki, satu perempuan. Usia sebaya, tanpa ikatan cinta. Tak ada nafsu. Jikalau ada satu memberahi, seketika yang lain memukul tengkuk agar tersadar. Dan kembali ke alam nyata. Karena dibilang, nafsu itu sesaat. Sementara banyak tugas menunggu untuk diselesaikan. Entah itu bersapa dengan orang orang tua, mengasah kepekaan dan kedewasaan. Juga, jika ada satu orang jatuh, berusahalah mendekat untuk membantu ia berdiri. Terus dan terus.

Namun, jikalah nafsu meledak, bagaimanakah yang harus dilakukan?
Lepaskan saja. Lepaskan saja. Lepaskan saja. Karena itu adalah bentuk dari peluncuran energi yang berlebihan diterima. Tentu dengan pelampiasan yang semestinya. Tidak sembarangan dan tak berolah rasa.

Nafsu bukanlah sesuatu yang harus dihapus. Namun, dikendalikan.

Tiga cenayang pasti akan berpisah secara ragawi. Masing masing tercerabut, dan kembali ke tanah tempat ia berasal dan berakhir. Hanya di Gunung Ciremai inilah tempat bersatu, berbagi kisah, dan solusi yang akan ditawarkan kepada dunia. Selebihnya, menangis tetap di hati, tak digelontorkan, dan bertanya: Kapan kami akan bertemu kembali?

Nikmati pertemuan ini. Menjalani hidup bersama di Padepokan jiwa. Tuhan yang akan menunjukkan jalan.









Pemimpin Umat Para Pengemis dan Gelandangan Jalanan

Pemimpin umat. Mengumpulkan para tua dan muda untuk dilatih mengemis. Menempatkan mereka di tempat tempat ramai orang. Memberi mereka kaleng kaleng yang nantinya diisi koin oleh para penderma. Menampilkan tua renta, remaja beringus, dengan baju compang camping penuh kotoran bertahun. Juga, mendadani mereka dengan tata rias paling dramatis. Tatanan rambut diacak acak, kantung kantung mata yang dibuat menghitam atau kelabu, atau kaki dan tangan disulap bak habis saja dipotong atau terjangkit lepra. Nah, inilah pemimpin umat yang sesungguhnya. Menggerakkan manusia manusia. Membuat mereka lebih produktif, menghasilkan berguna kepada orang lain. Meski, dalam kemasan mengemis. Tidak masalah.

Satu pagi, satu colt Mitsubishi meluncur. Dari sebuah desa yang jauh dari keramaian. Pemimpin umat sudah harus berurusan dengan polisi. Satu ban colt pecah pas di tengah jalan. Padahal anak anak buah berada di belakang. Si Pemimpin Umat bukannya tidak panik, ia sangat grogi. Dan benar.  Polisi dengan mata kantuk memberi hormat, dan berkata:
'Selamat subuh, Pak!'
Si Pemimpin Umat menelan ludah, mengatur napas. 'Selamat pagi, Pak Polisi.'
'Bisa saya memeriksa surat surat kendaraan Anda?'
'Boleh Pak. Ini.' Pemimpin umat membuka dompet, membolak balik, menemukan STNK dan SIM. Yang sudah dipersiapkan dirinya. Karena itu surat memang harus selalu ada.
'Lengkap. Tapi Pak ....'
'Siapa orang orang di belakang ini?'
'Kami mau bekerja di kota sana Pak.'
'Ke mana?'
'Ke Magelang.' Si Pemimpin Umat menjawab dengan tangkas.
Pak Polisi menuju ke belakang. Memindai semua penumpang. Tapi berhubung semua anak buah Pak Pemimpin Umat sudah dilatih, tampang mereka sangat meyakinkan. Dan Pak Polisi tak harus berpikir keras untuk meloloskan mereka semua.
'Baik Pak. Silakan dilanjutkan perjalanan Anda.'
'Terima kasih Pak.'
Pak Polisi menjawab sembari memberi hormat, 'Sama sama'

Belum sempat mobil distater, Pak Polisi kembali lagi.
'Ada apa Pak Polisi?' tanya Pak Pemimpin Umat.
'Ndak apa apa. Pinjam duit dong!'
Dan Pemimpin umat memberi uang dengan jumlah yang bagus.


Jumat, 26 November 2010

Mumi mumi dalam Museum Bernama Atlet Indonesia

Atlet berjibaku. Medali diburu. Untuk dikenal dunia. Tak oleh penghargaan dari pemerintah. Karena jika hanya ingin dikasihani, jatuhlah pada kecewa. Atlet adalah juga seniman. Olehnya keindahan juga kekuatan ditunjukkan. Dengan sepenuh semangat, tak ada ragu, terus melaju.

 Atlet Nusantara binasa. Dielu elu saat jawara, dibuang seperti sampah penuh cacian. Seluruh anak bangsa menginginkan kepuasan. Tak terkecuali para pemimpin bangsat. Hanya berongkang ongkang, menjentikkan jari, selanjutnya umpat meluncur dari mulut mereka jika kehendak tak dipenuhi. Oleh atlet atlet yang sempoyongan tak bergizi. Karena mess tak memiliki dana untuk memperbesar otot otot anak anak didiknya. Betapa bedebah Mentri Olahraga yang bercuit cuit, berkoak koak laksana burung gagak siap memangsa daging busuk.

 Atlet tua Nusantara menuju binasa. Mampus berkalang tanah tak punya sertifikat tanah kubur. Ditandu hanya oleh tetangga yang kadang mengerutu. Dan semat bintang jasa dijual untuk melunasi biaya penguburan. Selanjutnya waktu menghapus segala memori. Tak ada lagi si Fulan yang menjadi kampiun Asia, Dunia, Alam Semesta Raya. Karena semua sudah beramnesia. Lupa segalanya. Berganti dengan pahlawan baru yang lebih muda, energik, dan memincut hati.

 Atlet muda, atlet tak ada harapan. Berganti pelatih, berganti pola. Bingung dibuat, para konselor tak mampu menata emosi mereka. Semua bangkrut. Secara kejiwaan juga material.

 Nusantara tak beratlet hingga tujuh puluh lima tahun. Hanya atlet goyang erotis yang ditepuktangani, yang abadi di sanubari para anak negeri.

 

Sir Tim Berners Lee, Penemu www, yang Luput dari Surga a la Indonesia

Ialah Sir Tim Berners Lee. Penemu www. Bukan world wrestling wauw. Tapi yang ini, alamat internet. Yang menjadikan kita bebas menjelajah dunia, hanya dengan duduk di depan monitor. www bukan ajang gebuk gebukan bercampur adegan khas sinetron. Sekali lagi bukan. Ia adalah yang membuat kita bisa mengirim kabar secepat kilat, bersapa sanak kadang di ujung dunia lain, atau melakukan pernikahan secara online. Betapa hebat jasa Pak Tim.

 Jika Anda menekuni bisnis maya melalui internet, sesungguhnya Anda berhutang budi kepada Pak Tim. Karena ia tak meminta hak paten dengan penemuannya, www. Ia merelakan hasil perih berpikirnya untuk kepentingan umat. Apakah Pak Tim langsung boleh kita cap sebagai kafir oleh penganut garis keras? Eh, tunggu dulu. Jangan gegabah membuat suatu keputusan. Tidak bijaksana jika kita langsung menggebuk, mengatakan seseorang adalah bertempat di neraka. Untuk kasus Pak Tim, entahlah. Yang pasti, para pedagang jika mau jujur, harus berinfak kepada Pak Tim, sang penemu www. Tapi saya yakin, Pak Tim tidak mau menerima pemberian itu.

 Gelar Sir menandakan ia telah menjadi kerabat Kerajaan Inggris. Penghormatan bagi dirinya dari Ratu Elizabeth II. Karena rasa kemanusiaannya yang melebihi orang pada umumnya. Selamat bagi Pak Tim.

 Terima kasih telah membuka dunia baru kami. Yang tidak hanya sejarah penemuan Amerika Serikat oleh Columbus, yang kesasar sejatinya ingin berkunjung ke Nusantara. Hindia.

 www menjadi kenangan sejarah yang terlupakan oleh manusia manusia Nusantara. Menerima ataukah tidak, Pak Tim memberi pelajaran jika ketulusan adalah berbuah manis. Tidak oportunitas yang seakan sudah membudaya di negeri seribu pulau ini. Yang mengaku Indonesia. Indo di tengah tengah. Selalu di tengah, terombang ambing, tak memiliki jati diri. Pak Tim, ajari kami. Menemukan hal lain yang spektakuler. 

Jumat, 19 November 2010

Joko Bodho (Yang Bukan) Dukun Cabul

Joko Bodho bukan seorang dukun. Tidak yang dimaksud adalah Ki Joko Bodho yang tersohor di Negeri Khayalan bernama Indonesia. Joko Bodho yang satu ini bukan titisan Mama Laurent. Tak ada ilmu hitam yang ia kuasai. Tak pula ia mirip perwajahan dengan Ki Gendheng Pamungkas. Bocah dusun satu ini adalah orang biasa. Joko Bodho orang kampung yang sangat lugu. Tak punya kedigdayaan. Disembelih, pasti kepalanya lepas dari leher.

Memang, rambut Joko Bodho panjang. Nyaris sebokong. Kumis panjang sekali. Nah, inilah yang menyebabkan banyak orang menganggap ia seorang paranormal. Di jalan,  di bus, di angkot, tak jarang mereka langsung menyodorkan telapak tangan untuk diramal nasib. Atau pernah suatu kali, Joko Bodho ditawari mobil mewah keluaran teranyar oleh seorang yang mengaku sebagai pengusaha top di ibu kota. Karena, ia merasa Joko Bodho bisa melesatkan usaha dirinya. Dasar si Joko tak berpamrih, ia hanya menjawab dengan senyum simpul lalu ucapan terima kasih.

Di Jakarta ini, Joko Bodho mengadu nasib. Melamar kerja. Di sebuah proyek bangunan bertingkat, ia mendekati seorang lelaki paruh baya dengan helm kuning ia kenakan.

'Pak, sugeng enjing. Selamat pagi.' Joko memulai percakapan.
Sang lelaki yang sepertinya pimpinan proyek menyelidik. Menatap dari ujung kepala ke kaki. Seperti petugas imigrasi yang tanggap teroris. Atau, yang paling menjengkelkan, ia cuek tak menjawab salam.
'Pak, saya ingin mendaftar kerja.'
'Sudah tutup!' seru si bapak tambun.
'Oh baiklah Pak,' Joko berniat beranjak. Tapi ia memiliki ide. 'Ada yang bisa saya kerjakan Pak? Untuk membantu Bapak?'
'Gak ada. Udah penuh.'
Alamak. Sombong nian ini Bapak, dalam hati si Bodho berkata. Ia ingat pesan nenek kepada dirinya.
'Le, kalau kamu dalam kesulitan. Injak injak bumi tiga kali. Sebut nama Gusti. Minta pangestu.'

Joko melakukannya. Tiga kali injak, tanpa bernapas.
'Gusti bantu saya. Bumi dan tubuh saya adalah satu. Lancarkan niat hambaMu ini untuk berusaha.'

Benar. Si Bapak yang ada di depan Joko, berpaling. Sepertinya, pekerjaan akan diberikan kepada Joko Bodho. Sungguh dunia teramat mudah untuk ditaklukkan, Joko Bodho mulai bungah hatinya. Si lelaki bertopi proyek mendekat.

'Heh. Ini tanganku. Ramal garis tanganku ya!'

Ternyata, sama saja. Tidak berlaku lagi peribahasa 'Lain lubuk lain belalang. Lain kolam lain ikannya.' Yang ada adalah 'Sami Mawon, sama saja.'











Bermain Judi Bersama Yang Terhormat Pak Mentri

Bermain judi bersama Pak Mentri. Dia terlalu pandai, sok tahu, merasa perjudian juga ia mampu mengalahkan saya. Padahal, harap diketahui, saya sudah ke luar masuk penjara. Terkena garuk petugas satpol PP, tak jarang pula lari terbirit birit dikejar hansip. Tapi dasar Pak Mentri tak tahu diuntung, tetap saja ia sesumbar akan menguras habis dompet saya.

'Baiklah, Pak Mentri. Ini adalah pertaruhan ketrampilan. Di otak Anda memang berjejal teori. Entah probabilitas, peluang, atau paham statistika terbaru. Yang ada, saya punya kelicikan. Yang nanti akan Anda rasakan. Menghunjam jantung Anda, wahai Bapak Mentri yang terhormat.'

Saya tidak mengungkap kekurangan dia; Pak Mentri. Tak mengungkit jika ia diangkat oleh Presiden karena rasa iba. Sebagai imbalan menyerahkan suara massa pendukungnya untuk sang Presiden. Ini tak ubahnya, menyerahkan keperawanan kepada seorang lelaki bangka impoten. Ya, Presiden itu. Tidak sekali sekali mengorek kebejatan politis Pak Mentri. Biar saja ia melaporkannya nanti kepada Tuhan, di hadapan Sang Pemberi Jabatan sesungguhnya. Satu yang saya sangsi, pada Pak Mentri, mengapa untuk urusan judi, ia dengan amat ketus melabrak saya.

'Hai, Anak Ingusan. Sini!'
Dia menyebut saya dengan sebutan yang tidak pantas. Untuk ukuran pejabat teras, yang seluruh tindak tanduknya diteropong oleh buasnya media.
Saya melangkah gontai. Takut sebentar lagi kena damprat. Percik liur akan menempel di muka saya. Atau, ia akan mengatai saya dengan kalimat penusuk hati. Dikata asal usul saya yang tak jelas ayah siapa.
'Duduk di meja situ,' Ia menunjuk dengan muka kecut. 'Kita main kartu sekarang.'
Saya menjawab, 'Untuk apa Pak? Saya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.'
'Tunda saja!' bentak dia. 'Apakah kau tak tahu, aku MENTRI.'
Dengkul saya bergabung. Suara pak Mentri di hadapan saya tajam.
'Mengerti Pak.'
'Mengerti apa?' semprot dirinya lagi. 'Tahu bukan mengerti!'
'Ya Pak. Saya tahu.'
'Kalau tahu, duduk dan ikuti perintahku! Segera!'

Menurut adalah tindakan yang bijaksana. Untuk masa genting sekarang. Tak ada tunda. Tak ingin lebih lama lagi tersiksa, saya menundukkan kepala.
'Tegakkan kepalamu. Pandang aku!'
Ia tengah mengocok kartu. Tangannya kaku. Satu dua tiga kartu lepas, dipungut, dan si Pak Mentri berusaha mengocok dengan sembarang aksi. Ingin saya melepaskan tawa, saya tahan. Benar benar tak boleh keluar dari mulut.
'Aku bagi kartu ini.'
Ia membagi. Tapi ... ups. Berat sebelah. Saya lebih sedikit satu kartu.
'Pak, saya kurang sa ....'
'Cerewet. Sengaja. Aku tugaskan kau untuk kalah.'
Dasar edan, umpat saya dalam hati. Bagaimana bisa saya dikibuli dan seperti dijadikan sasaran tembak kebodohan Pak Mentri.

Saya menggebrak meja.
'Pak Mentri. Harap diingat. Saya pernah jambret. Maling dua rumah sehari dapat.' Mata saya pelototkan. Berakting dengan sangat meyakinkan. Suara saya kuatkan.
'Makan orang kalau halal, saya bisa lakukan. Tapi, judi bukan begini caranya. Harus FAIR. Mengerti?'

Lima detik lepas saya muntahkan kalimat sakti, mata Pak Mentri berkaca kaca. Ia memohon maaf. Berjanji tak mengulangi tindakan barbar yang ia lakukan.
'Nah, begitu. Jadi pimpinan harus tahu tempat. Tempat bejat, judi, tidak mesti sarangnya para pembohong.'

Memang benar. Sekali sekali Pak Mentri harus disadarkan. Oleh orang orang laknat seperti saya. Kalau tidak, bisa jadi kesombongannya memuncak. Melebihi hasil kerja dirinya yang tak jelas apakah bermanfaat bagi masyarakat ataukah tidak.

Mentri melawan saya seorang penjudi. Kalap kalapan.



























Tertimpa Rezeki Runtuh Bak Lotre

Menerima rizki banyak, kuingin menundanya. Karena melimpah adalah dekat dengan berlebihan. Berbeda dengan saat harus mencari barang satu gigit keju. Waktu itu, semua makanan, tak enak-lezat apalagi, terasa sangat berkesan. Tapi, sekarang seluruh yang ada di muka ingin dikuasa. Bahkan, orang lain tak berhak untuk sekadar menikmati bentuk dari benda itu.

Menerima rizki banyak adalah sulit. Mengendalikan syahwat, mengontrol emosi, menata pikiran. Yang ada, menggerutu mengapa barang yang itu yang sana tak jadi dibeli. Gembira sesaat, selebihnya tak jelas makna apa yang sudah dilakukan. Tak ayal, tak sadar, uang menipis. Kembali ke semula.

Menerima rizki banyak seperti tertimpa gunung. Tak kuat mental, gila hadiahnya.

Apa yang musti diurai dari ini? Menerima rizki teramat besar.

Satu, mengatur kendali napas. Jangan biarkan seluruh udara ke luar masuk dalam kecepatan menaik. Harta harus dikendalikan. Sama dengan hati, DIKENDALIKAN.

Dua, pikirkan hal hal tak mengenakkan di masa lalu. Masa depan juga belum tentu mengasyikkan. Tantangan terus tajam mengawasi juga memelototi.

Tiga, menikmati rizki banyak dengan sewajarnya. Tetap dengan gaya tak berbahan dasar duit. Oh tidak. Sekadar makan enak, berbelanja melengkapi dan mempercantik kamar, tak masalah.

Empat, tetap rendah hati. Karena kesombongan akan menjerumuskan diri menjadi hina. Itulah penyakit sebenar benarnya yang merusak jiwa. Tak boleh  berumuk jika seluruh uang yang didapat adalah semata dari diri kita. Tuhan berpunya.

Menerima rizki banyak yang sangat diharapkan.

Meribut di www.andhysmarty.multiply.com

Nah, Berteman dengan Orang Kalimantan

Berteman dengan seorang Kalimantan. Yang berkulit kuning, percis orang Tiongkok. Berbeda sekali dengan diriku yang cokelat. Tapi rambut kami sama. Tidak ikal seperti orang Maluku atau Papua. Tak masalah. Untung saja ada bahasa persatuan yang sama. Nusantara. Andai saja memakai bahasa daerah, tak tahu harus mengobrol apa. Paling banter memakai bahasa isyarat. Jadi tidak berkesan.

Kalimantan dikata orang adalah pulau yang tak bergempa. Tak ada gunung api di sana. Hanya banjir kadang kala terjadi. Karena hutan banyak yang gundul. Air yang harusnya meresap ke tanah, menuju rumah rumah penduduk. Di malam buta, bah menerjang perkampungan. Warga tak sempat menyelamatkan harta benda, justru korban banyak berjatuhan. Ya, Kalimantan praktis aman dari intaian bencana.

Temanku sangat baik. Tak pernah bercerita, mengungkit kejadian Perang Antar Suku dirinya dengan Suku Madura. Sama sekali ia tak berminat bercerita tentang pertumpahan darah. Ia bilang, 'Darah itu anyir. Persahabatan itu manis.' Dan ia beranggapan pula, terjadinya pembantaian atau penyerbuan atau segala macamnya adalah bentuk ketidakdewasaan sebagian warga. Tak semua menyukai perang.

Saya sangat menyukai satu sisi pandang dirinya. Tak ada dendam. Berteman dengannya sangat hangat. Yang ia ingin lakukan adalah menjalin keakraban dengan anak Jawa. Denganku. Dan juga bersama anak anak dari suku di Nusantara.

Kalimantan, Jawa, dan lain suku adalah SUKA SUKA.

Selamat bergabung di alam kebersamaan wahai Teman Kalimantan. 

Jumat, 12 November 2010

Hujan Besar, Kumis Fauzi Bowo, dan Bahaya Laten Banjir

Hujan. Bukan hanya cerita tentang air yang memenuhi got. Tapi, ada orang orang berlarian. Juga saat payung payung dibuka. Menahan air hujan. Ya, air hujan. Melulu berpikir sekadar air, tak ubahnya Fauzi Bowo yang kelimpungan menahan demonstrasi para penuntut banjir segera diakhiri. Oleh penguasa negeri kecil bernama Jakarta. Yang tengah depresi tak memiliki akal lagi membebaskan kota dari bencana laten banjir.

Hujan. Menikmatinya di teras rumah. Bersama segelas kopi panas, dicampur susu. Pisang goreng bertabur keju, atau singkong rebus disiram cairan gula jawa. Anak anak kecil berlarian, menyambut hujan. Tertawa tawa setelah seharian dimarah oleh guru ajaib berkacak pinggang bak monster tak berampun. Karena sang murid tidur di tengah pelajaran. Guru beranggapan itu adalah penghinaan teramat keji bagi dunia pendidikan di tanah air. Konfrontasi tak hanya antara Malaysia dan Indonesia. Tapi nyata di sini pertikaian antara murid dan guru. Seperti anjing dan kucing yang tak pernah akur sepanjang zaman.

Hujan. Pesan yang kau tawarkan, berhasil ditangkap. Kau seakan menyindir para pengguna internet. Mencemooh mereka yang telah ketagihan tak bisa lepas dari gurita teknologi tingkat tinggi. Dan, kau ingin berkata kepada kami:
'Hai, kapal kapal koyak. Nelayan mati hidup di tengah badai yang kubuat!'
Sementara, lelaki dan perempuan di depan komputer, hanya bisa merasakan dari jarak maya. Membayangkan bagaimana hujan bisa terjadi. Hujan adalah hal nyata, Kawan.

Hujan. Berikan kami tanda lebih banyak lagi. Agar kami bangun dari mimpi mimpi yang membuai ini. Yang menarik kami dari kesederhanaan yang dulu pernah ada. Menyeret kami pada kesenangan sebentar saja. Menutupi lubang kekurangan dengan cara bercongkak ria. Di dunia teknologi, ya teknologi internet. Candu, candu, hilangkan dengan deras airmu wahai Hujan. Karena kami butuh basuhmu.

Hujan. Teruskan kerjamu. Aku main internet dulu. Mohon maaf jika obrolan saya tadi sunggu munafik. Karena itu ciri khas kami. Yang sukar untuk dihilangkan. Dikurang pun kami sangat tak rela. 

Dan, internet marak membahas topik panas: Kumis Fauzi Bowo copot hanyut oleh banjir Jakarta.

Bukan Salad, Tapi Balad

Salah mengucap. Balad, bukan salad. Yang disajikan malah salad. Saya tidak suka sayuran. Seperti kambing saja. Balad, musik. Karena saya butuh hiburan saat ini. Bukan makanan. Kalau berdiskusi tentang makanan, teman teman saya sudah sering. Dan ujung ujungnya, mereka hanya memikirkan diri sendiri terutama perut. Jika balad yang dibahas, keindahan yang didapat. Tentu dengan motivasi menjadikan orang lain bahagia juga. Kesenangan harus ditularkan. Tidak untuk diri sendiri.

Bagaimana, balad sudah ada di tangan Anda? Dalam bentuk CD, DVD, atau kaset berpita?
Wah senang sekali melihat Anda bergerak hanya untuk membuat saya dapat itu balad.
Aduh, bukan salad. Sekali lagi. Bukan salad ya. Anda salah lagi mengambil. Tak masalah. Kesalahan beberapa kali pun masih bisa ditolerir. Karena, salah adalah bentuk improvisasi menuju kebenaran. Kebenaran itu nisbi, hanya bisa didekati, tanpa bisa dipegang bentuk nyatanya.

Baik, balad ya. Saya tunggu kabar selanjutnya.

Semoga ada balad. Yang bukan salad sayuran makanan Kerbau Air. 

My Name is Isobel

Namaku Isobel. Tanpa ISO, aku tetap Isobel. Suka tertawa, tak suka diketawain. Aku tertawa tidak untuk melecehkan orang orang yang aku benci dan tak suka. Menertawakan diri sendiri. Tak memiliki karakter. Yang ada hanya mengikuti gaya orang lain. Yang dianggap keren. Tapi anehnya, aku sangat senang. Tak perlu mencari, tinggal menerima. Seperti diberi remah remah, tak perlu harus menikmati roti sesungguhnya. Tak masalah.

Namaku Isobel. Bel selalu aku bawa. Gemerincingnya terdengar mengikuti gerak kaki kakiku menuju ke mana saja aku melangkah. Bebas. Dan tentu membuat orang orang berpaling kepadaku. Untuk sekadar bertanya, siapa anak itu? Pelan pelan saja aku mencoba meraih simpati orang. Perlahan pula lepas dari pengaruh sihir orang yang kuanggap hebat. Menjadi diri sendiri agaknya perlu dipertimbangkan. Karena lama lama aku juga tak nyaman. Karena idolaku adalah munafik paling ular di dunia ini.

Namaku Isobel. Tak harus mengutuk si Fulan yang menjadikanku bergairah sepanjang hidupku. Pengaruhnya memang hebat. Membuatku serasa ingin makan lima kali dalam sehari. Kecerdasan, riangnya, dan santun dirinya membuat tubuhku bagaikan budak baginya. Tapi, kembali lagi, saya sadar ini bukan akhir yang aku cari. Idola, membuatku seperti mumi Mesir.

Namaku Isobel. Selanjutnya, apakah nama Isobel hanya sebuah ucapan tak berarti. Atau, Isobel akan terpajang di dinding dinding para remaja. Dengan karya karya Isobel. Diriku. 

Menendang Pantat Dosen Kejam Pelit Nilai

Menandang pantat dosen kejam. Karena ia mengajarkan teori yang tak masuk di otakku. Menjejalkan berbagai rumus yang bagaikan ayam diloloh paksa bekatul. Rasanya ingin teriak. Mengumpat langsung di depan si dosen reseh. Satu jam hanya dia yang nyerocos. Tanpa memberikan kesempatan mahasiswa untuk mengungkapkan ide.

Ini menurut pemikiranku. Sekadar pengungkapan kekesalan. Aku beride: Separuh waktu si dosen menularkan kepandaiannya, selebihnya kami bermain. Bermain kata kata, bertanya ini dan itu. Bolehlah di luar topik. Karena aku yakin, ada hubungan yang tak linear antara ide gila dengan konsep paten keilmuan. Cara menggabungkannya itu hanya bisa didapat dengan komunikasi cair, cerdas, tanpa harus meninggalkan tata krama. Nah, ini yang ingin aku ungkapkan ke si dosen. Tapi ... ini guru cenderung seperti Raja Lalim. Tak memberi kesempatan mahasiswa untuk bertanya. Ia mungkin beranggapan, murid berucap adalah awal dari makar. Susah memang kalau begini.

Kepalanya botak. Tak ada rambut sehelai pun di batok. Matanya berkacamata tebal. Jalannya terhuyung huyung dengan buku buku digamit di sisi badannya. Dari cara berpakaian, aku rasa masih bagus. Tak berkesan jorok kucel seperti para profesor yang tak memikirkan pribadi mereka. Si dosen bawel di depan kelasku modis. Cuma ya itu. Sifatnya yang konservatif kuno dan kolot membuat mati kutu para mahasiwa.

Timbul niatku untuk mengerjai dia. Memanfaatkan harga kartu perdana yang murah. Aku kirim SMS mengaku bagian pengajaran. Bilang kalau perkuliahan si dosen kejam itu dibatalkan seluruhnya. Karena sudah ada dosen pengganti. Begitulah yang akan aku lakukan.

Selasa, 09 November 2010

Sepotong Sapu Tangan kepada Sang Badak

Menyodorkan sepotong sapu tangan kepada sang Badak. Ia tengah kedinginan, terkena flu. Bersin bersin dengan ingus yang menetes netes ke tanah. Sedikit ragu, tapi sang Badak menerimanya tanpa harus menendangkan kaki depan sebelah kanannya. Tapi dengan mulut. Yang tampak putih memucat dengan bintik bintik merah.

Ini hari yang sangat dingin. Suhu di bawah nol. Memang tak ada termometer. Tapi ini sungguh menusuk tulang. Kaki sang Badak mengorek salju, tanda ia tak suka. Juga matanya berair, ke luar terus.

'Bagaimana aku menggunakannya?' sang Badak bertanya dengan sapu tangan di mulutnya. Suaranya agak tak terdengar.
Saya berpikir keras. Apakah saya salah memberinya sebuah sapu tangan. Atau, seharusnya saya yang mengusapkannya ke hidung dan mata sang Badak?
'Aku tak punya tangan,' Dia meneruskan pembicaraannya. 'Kalau aku pakai dua kaki depanku, aku tak mampu menahan berat tubuhku.'

Memang, si Badak sekarang tampak gemuk. Kulitnya yang menebal, menjadikan ia tak enak lagi bergerak. Ia mengaku sekarang jarang berlari lari, untuk sekadar mengejar burung yang sering mengganggunya. Atau, tak pernah lagi padang rumput ia sambangi di musim panas. Lebih suka dirinya berada di kandang yang nyaman. Tempat Paman Pawang memberi kenyamanan, baik makanan atau tempat tidur. Belum lagi hiburan musik orkestra yang selalu diputar setiap Jumat jam 12 tepat. Menjadikan sang Badak ketagihan, lebih dalam lagi ke alam tidur. Setelah perut kenyang oleh makan siang.

'Ayo, bantu aku Nak. Aku sedang pilek. Sapu tangan ini kubutuhkan. Tapi bagaimana memakainya?'
Tak ada ide. Padahal sang Badak terus merengek, penasaran bagaimana cara menggunakan sapu tangan.

Badak, maafkan saya. Saya harus mencari dahulu.


Kesurupan Isu Sesat

Isu isu bergentayangan. Ada yang menyebut, besok gempa besar. Yang lain berkata, gunung A akan meletus dahsyat dan seluruh kota akan luluh lantah. Atau, si Dukun XYZ memberi wejang kepada seluruh warga untuk menyelamatkan diri. Karena akan terjadi hujan lebat, dan Kota Jakarta akan tenggelam tanpa menyisakan kehidupan di dalamnya. Mana yang bisa dipercaya, kepada siapa harus memohon kejelasan. Seluruh penghuni kota dalam keadaan panik. Tak ada yang mampu mengontrol emosi. Rasio serasa terbuang. Di dasar laut, bermain bersama fosil ikan purba.

Lelaki paruh baya kesurupan. Termakan oleh isu yang berkembang. Ketakutan satu keluarganya binasa. Ditelan bumi, terkubur abu vulkanik, atau terpanggang oleh panasnya matahari. Demi kelangsungan kehidupan, ia berteriak teriak agar sang istri dan anak mengikuti dirinya. Ke luar dari kota. Yang jauh dengan tempat diprediksi akan terjadi bencana yang super hebat.

Mata melotot memerah, rambut yang putih semakin tampak menyala dengan warna peraknya. Otot otot menegang, tangan menggenggam tanda tekanan darahnya memuncak. Ia berceracau, yang tak dipahami sang istri. Dua anaknya melongo, tak sempat berpikir, mengikuti saja akhirnya kepada kesurupan si Bapa. Ya, akibat isu isu dahsyat.

Memanggil taksi, berlari lari sambil terisak. Mereka sekeluarga meninggalkan kota yang selama ini memberi kehidupan. Dan, ketika bencana mengancam, mereka lupa jika itu adalah cara sang Kota bercanda pada mereka.

Tak apalah. Selamat jalan wahai para pengungsi. Semoga harta bendamu aman. Tak dirampok oleh para penggarong. Yang memanfaatkan situasi.

Silet, Fenni Rose, dan Konspirasi Yahudi

      Silet untuk mengerok janggut. Rambut rambut berjuntai ke lantai. Dipungut atau dikumpulkan untuk dijual tak masalah. Silet adalah benda tajam yang siap mengiris kemaluan. Atau dilemparkan sekuat tenaga menyasar muka musuh. Dan si lawan akan terkaing kaing, berdarah darah, ditandu paramedis untuk disterilkan, diperban, biar muka tak utuh lagi.
     
      Fenni Rose bercuap cuap. Di depan monitor TV, dengan gaya yang dibuat buat. Merayu pemirsa, mewujudkan obsesi untuk dipilih sepuluh kali beruntun di ajang Panasonic Awards. Tanpa susuk di kerongkongan, harus diakui, suara Fenni sangat menggoda. Pelacur jalanan bersuara seksi bermantra, tak mampu mengalahkan pesona sihir si Fenni. Khas, ganas, trengginas, buas, dan pedas. Terkadang ia menyindir Sarah Azhari dengan payudara supernya. Atau di lain waktu memuji si Taufik Hidayat yang berhasil juara di luar negeri. Saya merasa, presenter satu ini tak memiliki karakter. Meski yang patut diacungi jempol, hanya panorama pita suaranya. Indah, renyah, terkadang tak lebih dari remah remah.
     
      Sekumpulan Yahudi berada di ruang tertutup. Sepuluh orang, lima lelaki lima perempuan. Tak ada pesta cabul, yang ada menyusun strategi melumpuhkan lawan. Politik, dagang, pendidikan, apa saja yang bisa dibantai agar tak ada lawan di muka bumi. Tak tahu detail apa yang mereka bicarakan. Semua terbatasi oleh tabir. Oleh logika bercampur mistik. Yang khas Yahudi.
     
      Fenni Rose memegang silet. Dipamerkan ke seluruh pemirsa di seluruh Indonesia.
      'Pemirsa. Ini silet. Saya akan mengiris nadi saya! Perhatikan pemirsa.'
      Rating naik. Melesat. Terus dan terus. Seluruh kru RCTI bertepuk tangan. Merasa puas dengan kinerja yang spektakuler. Biar satu komponen merasa tak nyaman, yang penting kontroversi terus berjalan. Terus digodok. Masukkan terus kayu bakar, biar nyalanya lebih terang. Air mendidih di atas seratus derajat. Manusia manusia Indonesia harus dikompori dengan berita yang heboh. Karena itu sangat disuka. Penuh kebencian, biarlah. Terus dan terus. Karena itu yang diinginkan. Iklan iklan, membuat buku tabungan sang produser tak mampu lagi menampilkan print. Harus berganti ganti buku. Tukang bank sampai kelabakan.
     
      Tak perlu bergosip, Fenni. Jika kau mau, selidiki konspirasi para Yahudi yang tengah menggurita di tanah air kita. Dijamin nyalimu ciut, otakmu tak mampu untuk mengorek seberapa canggih Yahudi sudah menguasai negeri ini. Memorakporandakan, tanpa pernah kau bisa memublikasikan. Karena kau hanya mampu untuk bercenayang. Itu pun tak profesional. Dan terkesan mandul.
     
      Fenni Rose, belajarlah dahulu. Saya berikan alat penembus waktu. Saya kirim Anda ke waktu lampau. Ke era dinosaurus, atau flinstone. Biar kau bisa menata dasar dasar berpikir dengan baik. Sehingga orang yang kau pengaruhi tak menjadi para budak yang tak berotak. Selamat jalan ke dunia purba wahai Fenni Rose.
  
     
     
     

Antara Barry Prima sang Aktor Laga, Barry Manilow, dan Barry Obama

Barry oh Barry. Bukan Barry Obama. Tapi, Barry Prima. Aktor laga berbadan tegap berotot. Ke manakah dia? Tidak sedang berkunjung ke istana kan? Apakah ia tengah menggeluti bisnis onderdil mobil? Saya tidak mengetahui dengan pasti. Karena, ia sudah tak beraksi lagi di dunia film. Ada satu film yang kemarin ia bintangi. Entah apa judulnya. Lupakan saja. Tak begitu penting.

Barry Manilow, penyanyi. Suaranya oke, melebihi suara beo. Ya tentu. Manusia dan burung ditakdirkan tidak saling bersaing. Jika Barry mampu menyihir para wanita dengan suaranya, burung beo pun punya cara tersendiri. Bersiul, melompat, meski ia berada di dalam sangkar. Buatan manusia. Barry Manilow sekarang sudah tak lagi terdengar kiprahnya. Mungkin ia tengah berlibur di Pulau Bali. Tanpa cadar untuk menutupi muka. Karena, para fans tak lagi peduli padanya. Keriput sudah menguasai tubuh si Barry.

Barry Obama. Oh selamat datang, Tuan. Mari, silakan disantap nasi goreng, bakso, dan gado gado. Selamat menikmati beberapa harimu di Indonesia. 

Aku Benci WC Berkloset Duduk: Jongkok adalah Pilihan

Kloset duduk. Aku tak bisa memakainya. Sudah terbiasa pakai yang jongkok. Rasanya jijik. Bekas bokong orang. Siapa tahu si Anu penuh burik. Panuan, kadasan, atau sedang terkena cacar. Pengin teriak, tapi aku tahan. Ini rumah orang. Aku tamu harus menghargai si tuan. Karena, salah tata krama sedikit, dijamin merugikan diriku sendiri.

Kuputuskan untuk naik kloset. Bertanya kepada temanku, aku malu. Jangan jangan, ia menawarkan kamar mandi pembantu. Kelasku dengan para rewang jelaslah berbeda. Belum lagi, bayangan kamar mandi jorok ada di otakku. Muntah lihat bak yang menguning. Atau, gayung yang penuh dengan kerak. Memang sih, kloset jongkok pastilah ada di WC pembantu. Tapi, sudahlah. Ini kuanggap sebagai latihan. Barangkali, aku terkena kutukan menjadi kaya seperti sahabatku. Si Barry yang dulu sehidup semati berjuang dari nol. Dan ia lebih dahulu kaya. Aku belum, terus meretas.

Antara jongkok, naik kloset, bokong menempel di keramik. Depresi aku dibuat. Jongkok di keramik bikinan orang Barat, aku takut akan ambrol. Dan, aku berteriak minta tolong, karena jatuh terjerembab. Dengan tahi yang berceceran di lantai. Di mana mana. Betapa malu aku. Aku menghitung, berapa kilo bobot tubuhku. Lalu tekanan yang dibuat dengan gaya jongkok di atas kloset. Apakah seimbang. Amankah, jebolkah, atau biasa saja tak ada apa apa. Tuhan, bantulah diriku untuk yakin jika kloset duduk berbaikan denganku.

Kaki kananku menyentuh bibir kloset. Kuangkat badan. Lalu, kaki kiri.
Menghadap tembok WC, aku berbalik 180 derajat. Kanan dan kiri kaki bergantian posisi sekarang.
Jongkok, jongkok, lebih berjongkok. Bulir keringat mulai berproduksi. Kuangkat baju agar lebih nyaman. Posisi sudah tepat seperti di kamar mandi rumah. Jongkok ekslusif.

Dua menit, aku tegang. Lima menit, masih tak bisa meluluskan niat. Sungguh susah. Belum terbiasa, akal rasioku menjawab. Aku pun melompat. Untung tidak terpeleset. Cepat cepat membersihkan diri. Kabur dari kamar mandi berkloset duduk. Kejam dunia. Aku tak suka kloset duduk.

Minggu, 07 November 2010

Dua Gelas Minuman buat Para Pengungsi Merapi

Dua gelas, bagi para pengungsi. Satu berisi teh manis, lainnya susu kocok. Yang telah bercampur dengan nutrisi peningkat mutu tubuh. Merayu mereka untuk tetap bersemangat menjalani hidup yang sekarang tengah kejam. Merenggut nyawa saudara, memberanguskan rumah, mematikan ternak, juga mengurangi jatah kesenangan. Di barak yang sesak, kami memberi sekadar minum penghilang dahaga. Agar mereka tak berteriak depresi karena tak kuat oleh tekanan.

Gelas plastik, habis lalu dibuang. Disedot dengan keceriaan tertunda para pengungsi. Tak masalah. Yang pasti, biarlah hari ini kemarin dan beberapa jam mendatang Merapi terus mengancam. Kami selalu siaga untuk menjaga kalian wahai para pengungsi.

Besok, kami suguhkan buah buahan. Dari para penyumbang yang dengan hati tulus memberi. Tanpa embel embel perusahaan, atau lembaga masyarakat dari mana gerangan. Yang ada hanyalah saling mendukung kehidupan, tanpa harus saling mencurigai. Karena hidup adalah saling memberi tanpa harus meronta meminta. Percayalah, buah buahan wahai para pengungsi. Ada jeruk biar mata kalian melek terkaget oleh kecutnya rasa. Atau pepaya, agar lancar buang air besar. Oya, kami ingat, pepaya. Itu buah menjadi sumber energi yang baik bagi kalian. Untuk menghabiskan waktu istirahat di barak sampai rumah rumah berdiri kembali oleh janji pemerintah.

Dua gelas, di malam malam panjang nan melelahkan.

Media Buas, Masyarakat Mati Ngenas: Kegagalan Total Menkominfo

Seperti sanggul saja ini logo. Atau berniat menyerupai bakwan goreng alias bala bala?


Memburu berita. Menampilkan kepada khalayak. Tanpa harus mencari sensasi berujung rating. Dan tampilan iklan berentetan. Duit bukan segalanya. Namun tanpanya, tak kuasa. Seharusnya awak media lebih adil dalam berkarya. Tak harus membodohi warga, tak menimbulkan kepanikan. Karena kita hidup bersama, haruslah saling menjaga. Dengan segala kerendahan hati, teruntuk kawan pers, saya memohon tahanlah diri Anda.

Berpikir, jika media adalah senjata terdepan memajukan bangsa. Mencerdaskan penduduk, dengan informasi yang menggugah, memotivasi, dan menghibur. Jurnalisme menjadi penggerak sosial, merapatkan barisan seluruh komponen bangsa untuk menyatu. Menuju perubahan yang dicitakan bersama. Membentuk karakter bangsa, yang tengah porak poranda. Meski, beralasan segala bencana, tak adillah kita akan kemandekan jalan negeri ini. Dan, media seakan membuat keruh suasana. Ia bermain di ujung duri menghunjam menghantam lembah ketidakdewasaan.

Media Indonesia adalah media sekarat. Yang bak monster perenggut kemanusiawian. Bisa mematikan relung, menghipnotis tanpa bisa mengembalikan sukma anak anak negeri. Ia adalah candu tak berkonsep, dilingkupi oleh para mafia haus publisitas. Janganlah seperti itu wahai Teman Media.

Menggagas Media yang Toleran

Toleransi, teposliro, tenggangrasa. Rasanya kata kata itu tak ada lagi. Musnah oleh demokrasi yang bukan diri kami. Bukan jiwa kami. Melayang kami dibuat oleh ruh demokrasi yang serasa bukan nyawa kami. Gotongroyong telah hilang tak berbekas. Menguap berganti dengan si jahat dari barat. Dan media tak mampu sekadar berpikir kritis tentang absahnya si Demokrasi. Malah mereka asyik bermasyuk dengan kebebasan menampilkan berita secara seronok. Tak berkendali. Anehnya, para punggawa redaksi seperti kalap, mengejar kepuasan batin mereka sendiri. Kamilah tumbal dari semua ini. Membuat kami mengigau tanpa bisa bangun kembali.

Media yang baik adalah berimbang. Cerdas dan tanpa harus berkerut kerut berbahasa. Semua kalangan bisa menerima. Yang pandai tak merasa dibodohi, lalu si Butuh bisa belajar dari media tanpa harus terbantingbanting mengikuti. Media milik bersama, tak satupun ditinggalkan. Sayuk rukun, membangun sistem informasi dengan kejujuran.

Dan, inilah kegagalan Kementrian Komunikasi dan Informasi. MUTLAK GAGAL.

Mari membenahi bersama. Tanpa harus menyalahkan satu sama lain.

Informasi yang berimbang adalah dambaan kami.

Kopassus Silakan Bersolek

Kopassus berjajar. Menyimak arahan sang komandan. Berbaret merah, berbaju loreng. Dengan coreng cemoreng di wajah, memasang muka bengis. Siap di medan laga, tempur bukan kata yang membuat hati mundur. Kopassus berpeleton peleton. Tak ada ragu untuk membela tanah air tercinta. Indonesia.

Khusus berkontrak kepada Pertiwi. Mati menjadi harga diri yang pantas diyakini. Batas negeri dipertahankan tanpa henti. Bergilir menjaganya, memelototi setiap gerik mencurigakan. Mencuri ikan, menggeser tapal demarkasi, atau peminjaman budaya secara kasar, ialah sedikit dari tugas yang harus dilumpuhkan. Karena Kopassus benar benar khusus. Tidak hanya ditugasi saat kondisi mepet. Tapi, selama waktu masih ada, mereka mutlak siaga.

Kopassus, ayolah beraksi. Jangan sembunyi. Tunjukkan pesona kalian. Di depan generasi yang haus  contoh pemimpin yang loyal terhadap negara.

Yogya (Masih) Terus Berhati Nyam Nyam

Yogyaku tercinta. Janganlah kau larut dalam lara. Kami masih mencintaimu dengan apa adanya. Menjalani kehidupan bersamamu. Bersama dengan wargamu yang terus semangat. Meski coba menghantam bertubi. Tak tega rasanya meninggalkan dirimu barang sehari. Hidup kami tertambat di kota kecilmu ini. Ada dan tanpa musibah, kau telah dan selalu menjadi bagian dari jiwa kami.

Yogyaku tercinta. Seribu kenang, berjuta harapan, tetaplah kau menjadi kota yang memberi kesejukan. Bagi Nusantara yang tengah bergulat dengan dirinya. Berikan suntikan dan asupan energi bagi kejayaan Negeri Zamrud Khatulistiwa. Biar redupnya berubah menjadi kilau yang setara dengan tetangga sebelah. Dan tak ada gunjing yang membuat telinga panas. Atau, Yogya, penuhi dan baluri tubuh kami dengan harga dirimu yang menjulang. Sebagai pusat dunia. Berkumpulnya manusia beragam ras tanpa ada pecah dan selalu menyatu dalam napas antara Merapi Keraton dan Pantai Selatan.

Yogyaku tercinta. Kami yakin, dirimu kuat. Dan kami belajar darimu. Bahwa menyatu dengan alam adalah suatu kewajiban. Mematuhi Sultan sebagai Pemimpin pilihan Tuhan. Sembah sinembah tanpa harus mendewakan, juga berlaku adil terhadap teman kuliah kerja atau siapa saja. Kami belajar dari dirimu, Yogya. Cepat bangkit dari keterpurukan, mencari peluang lain, selanjutnya memantapkan karakter untuk berbagi kepada sesama.

Yogyaku tercinta. Kami tetap tersenyum. Bersama dirimu. Tak ada kecut hati kami untuk mundur dari cita yang telah kami terbitkan. Menampilkan cerita kepada temurun. Ya, harmonisasi hidup. Semoga.

Bagi Yogya, teruntuk Yogya, kepada siapa saja yang betah menyimak sepak terjang Kota Perdamaian ini. 

Jumat, 05 November 2010

Barak Pengungsian dan Eksodus Mahasiswa Kecut Mental

     Berkumpul para pengungsi. Dengan depresi yang pekat. Mendalam. Bercampur antara kalut memikirkan ternak yang masih tertinggal, benda yang tersisa, juga anak pinak yang terpencar. Ini adalah waktu teramat mencekam. Mengurusi para pengungsi menjadi tantangan yang tak lumrah. Sementara para relawan juga berjibaku menyelamatkan diri mereka. Tak ada yang tahu pasti kelanjutan hidup. Tidak sekali sekali bagi manusia.

     Di barak penuh sesak. Berbujur manusia yang entah tak mandi dengan rambut kaku penuh debu. Bayi bayi merengek meminta minum, batuk karena mulut dimasuki abu Merapi. Atau seorang bapa renta terserang stroke terlampau kaget bunyi gemuruh. Hilir mudik, perawat, dokter, atau ustaz yang berusaha menenangkan batin. Semua rusuh, tapi masih bisa diatasi dengan baik.

     Kampus diliburkan untuk seminggu. Mahasiswa berbondong bondong, bermigrasi ke tempat paling nyaman. Agar nyawa mereka tak tercabut oleh Malaikat. Panik, ingin cepat bertemu dengan orangtua, selanjutnya melaporkan kondisi teraktual Yogyakarta. Dan, lupa, jika mereka memiliki tanggungjawab sosial. Untuk sekadar memahami kondisi para pengungsi. Apakah menjadi relawan, menyumbang dana, membagikan masker, dan sejuta empati lain. Tidak untuk melarikan diri dari Yogya. Ah, semua adalah pilihan.

     Kamar mandi berjumlah tiga. Untuk ribuan pengungsi. Jika sehari harus mandi semua, bisa dikatakan satu orang mendapat jatah satu menit. Belum jika ingin membuang hajat. Dipastikan antrean pengungsi lain menggedor pintu. Lalu, seorang wanita murung. Sepertinya hasrat berahinya tertahan. Setres. Ingin bercinta dengan suami, di mana ada tempat. Banyak orang. Dan, semua mua menjadi penat. Karena tempat telah berganti. Tak seperti biasa. Yang bebas bercanda, bekerja, bersenang senang. Kini ....

Bertanya kepada Bulan tentang Mentari dan Gemunung

Bulan, tolong tanyakan kepada Mentari. Apakah pagi ini ia tak muncul? Mengapa langit sungguh gelap, tertutup debu karena Gunung meletus di dekat kami. Jika Mentari tak gagah seperti biasa, bagaimana dengan cucian kami ini, Bulan. Sudah tak punya kaos buat kami bermain. Tolong tanyakan ke Mentari ya Bulan.

Bulan, mengapa gunung tempat dirimu tenggelam untuk tidur sekarang marah. Memuntahkan lahar, membuat kami kalang kabut menyelamatkan diri. Takut kami Bulan. Tolong sampaikan permintaan maaf kami kepada gunung itu. Sepertinya kami mempunyai salah yang sudah tak bisa diterima olehnya. Benar benar kami memohon ampun segala khilaf.

Bulan, apakah Mentari dan Gunung sudah tak akur lagi. Hingga malam dan siang terasa tak ada beda. Siang kami tak tekun bekerja, malam tak jarang bangun dari tidur. Jujur kami merasa tak lagi nyaman. Renggang kami rasa. Antara, kami manusia dengan gunung dan mentari.

Tapi, bulan. Dirimu tak marah juga pada kami kan? Jangan Bulan. Biarlah Mentari dan Gunung belum baik lagi dengan kami. Kami akan mengubah sikap kami kepada mereka. Kami berjanji.

 

Bersahabat (Kembali) dengan Alam Raya

Bencana, atau musibah, janganlah disoraki. Karena sebetulnya ia amat dekat dengan diri kita. Tidak untuk diteriaki ''Pergilah Kau. Aku tak suka. Menderita aku dibuatmu.' Percuma saja lantang menolak kedatangan, yang bernama bencana alam. Tak perlu panik. Sebab, ia sejatinya bisa didekati dengan baik.

Gunung meletus adalah siklus kehidupan. Ia bergerak tumbuh dewasa menjadi tua. Meletupkan material untuk mengurangi beban yang ia tanggung. Dan ingin berbagi dengan manusia di dekatnya.

'Hai Manusia. Aku berikan pasir untukmu. Untuk membuat rumah.'

Atau,

'Kerikil untuk kau buat tembok.'

Dan,

'Debu. Dan kuingin mengingatkanmu, dengan debu ini, batuklah diri kalian.'

 

Ya, batuk. Saat debu masuk ke dalam napas, tercekatlah kita. Sesaat menghargai arti udara. Dan menyebutlah kita atas nama Tuhan. Yang sehari hari lupa untuk bersyukur. Gunung meletus jika disadari pula adalah berkah. Tanpa mengesampingkan akibat yang diperoleh. Oleh manusia seperti kita.

Bagaimana jalan untuk menganggap bencana dan musibah sebagai kawan?

Langkah awal, mengenal apa itu bencana. Entah itu banjir, hutan berasap karena dibakar, gempa, atau yang lain. Orang bijak berujar, tak kenal maka tak sayang. Dan, selalu dalam pemikiran kita, bencana bukan untuk ditakuti. Tahan emosi untuk selalu merenung. Tidak reaktif, tetapi sebelumnya harus responsif.

 

Membangun bangunan tahan gempa, wajib. Atau, membuat jalan lahar panas dan dingin untuk si Gunung Kesayangan kita. Dan yang tak kalah luar biasa, mengajari orang orang kita untuk selalu tanggap bencana. Memperlakukan alam seperti halnya makhluk. Yang berhak mendapatkan kehidupan. Sehingga, manusialah yang berperan aktif dalam hal ini.

Mari mengenal alam lebih bijak.

Kamis, 04 November 2010

Kratingdaeng, Kuku Bima Energi, dan Rusuhnya Barak Pengungsian Merapi

Setres jadi pengungsi, saya teguk Kratingdaeng. 2 botol. Hasil memohon ke satu relawan cantik.
'Mbak, tolong saya,' rayu saya sembari memasang muka memelas. 'Saya pengin minum segeran.
Mbak Relawan bertanya, 'Minuman energi Pak? Buat apa Pak? Kami ndak sedia.'
'Tolong Mbak. Saya haus.' Gaya saya menjadi kekanak kanakan, manja.
'Oke Pak. Saya belikan. Kukubima Rosa kan?'
'Ndak mau Mbak?' seru saya.
'Kenapa Pak?'
Saya liat wajahnya mengerut, menahan marah. Diampet.
'Saya beli di warung sebentar Pak.'
'Jangan Kukubima Mbak.' tawar saya. 'Kratingdaeng.'
'Sebentar Pak.'
Tampak si Mbak melenggang menuju ketua koordinasi. Mereka berbincang serius. Dan datang lagi ke posisi saya.
'Pak saya sudah bertanya Pak Ketua. Beliau membolehkan. Tapi kami mau tanya ....'
'Tanya apa lagi Mbak?' kalap saya.
'Alasan Bapak apa meminta Kratingdaeng? Bukan apa apa. Apakah makanan dan minuman dari kami tidak berkenan di hati Bapak?'
'Cerewet! Kukubima Rosa, mbah Maridjan sudah mati. Apa mau saya kaya DIA! Minum, mati!'
Sontak dia meninggalkan saya. Setengah jam kemudian, 2 botol kratingdaeng.
'Maaf Pak. Kali ini saja ya minta yang aneh aneh.'
Saya tak menggubris. Menikmati minuman segeran, membuat saya lupa diri.

Pacar Minta Putus karena Merapi dan Maridjan.

Saya putus dari pacar. Gara gara sepele. Merapi. Memang, sontoloyo itu gunung. Marah saya dengan dia. Padahal saya paham: mengumpat ciptaan Tuhan, tidak diperkenankan. Tapi masa bodoh. Cinta saya raib. Ya, Gunung Merapi itu.

Alkisah begini. Kami berdua makan malam. Di tempat kesukaan kami. Warung murah. Ia makan bandeng, tanpa nasi. Katanya diet. Padahal saya suka dia gemuk. Tapi saya pendam saja. Tak mungkin saya ungkapkan. Bisa diputus di tempat. Nah, saya makan telur plus nasi. Irit. Jatah malam ini saya yang bayar. Diusahakan seminimal mungkin dompet berkaok. Manusia hemat adalah cita cita saya sedari kecil. Pacaran paket minimalis.

Makan tinggal separuh. Si Adik cemberut. Saya hibur. Dengan cerita kibul.
'Mbah Maridjan nyembah setan waktu Merapi meletus.'
Dia membanting garpu dan sendok.
Saya hanya membanyol. Tak lebih. Bukan melecehkan. Ingin menghibur.
'Ada apa Yang?'
Melengos dia.
'Ya sudah, kita pulang yuk.' Masih sabar kan saya?
Di tengah jalan menuju rumah Adik, ia minta putus.
Tidak jelas. Saya melongo. Apa gara gara Merapi? Atau ucapan saya tadi? Hingga ia naik pitam.

Saya mengiyakan. Putus.

Berbisnis Produk Herbal Nusantara tanpa Cabikan FPI

Jualan saya membikin heboh. Seantero Tasikmalaya. Produk herbal andalan Yogya, bernuansa Keraton, laris manis. Ada rempah spa, cebokan pembersih vagina, lulur montok, sabun rapet wangin, dan macam lain. Ya, saya memang berfokus ke barang alami. Karena yakin pulung kekayaan saya di situ. Tidak perlu malu. Toh naganaganya mendapat keuntungan. Tidak boleh gengsi. Melayani segala kebutuhan dan keinginan para perempuan, begitulah moto usaha saya. Secara saya paham sekali, kaum hawa adalah pencetak, penguasa uang suami. Jadi manfaatkan saja.

Tasik gerimis, kata kolega bisnis saya. Kiriman sudah sampai. Sebelum tiba, teman saya sudah beriklan promosi. Jangan sangsikan, mulut dia bak ular. Licin dan pandai menarik simpati. Siapa saja yang ditawari, pasti beli. Teh jati China buat melangsingkan tubuh, ludes. Lulur pengencang payudara, apalagi. Ramuan spa, disikat habis. Agaknya, Tasik bakal ramai dengan rintisan usaha kami.

Berita heboh menyebar. Dilaporkan, perempuan Tasik dimarah suami mereka. Karena berlama lama merawat diri di kamar mandi. Lupa melayani suami, menyuap anak, atau menyusui bayi. Mereka terlalu asyik tersihir pesona herbal keraton.

Tak mengapa. Berarti bisnis berjalan. Untuk selanjutnya, memantapkan diri.

Selasa, 02 November 2010

Gerimis, Malam Minggu, dan Tembakan Ortu

Hujan gerimis di sore hari. Tukang bakso, tukang siomay hilir mudik. Menahan perut, tak ada uang di dompet. Petir menyambar, bunyi gedebug dari belakang rumah. Saya menyangka, satu butir kelapa jatuh. Lalu, seekor tupai akan mengeratnya. Meminum airnya, atau memakan daging kelapa, dengan amat lahap. Hujan, berhentilah. Saya ingin bertandang ke rumah kekasih.

Ini sabtu sore. Hujan menjadi lebat. Tak ada tukang makanan dorong lagi. Mereka tengah menyelamatkan dagangan dan tubuh mereka. Jangan sampai kuyup. Tampak satu sepeda butut, ditunggangi seorang bapa tua, tanpa jas hujan. Saya menyapa dia keras.
'Hati hati Pak!'
'Yo!'
Semakin termangu. Janji telah lewat sepuluh menit. Pasti si Dedek marah. Tak ada pulsa untuk mengirim pesan. Dan, ia pun tak menelepon. Saya gelisah. Apakah ia marah kepada saya? Untuk ke sekian kalinya.

Menerjang hujan? Bisa saya lakukan. Amat mudah. Tapi di serambi depan, Bapa dan Ibu sedang berbincang. Pasti mereka menahan kepergian saya di antara hujan. Dan menyuruh saya untuk bersabar. Atau, mereka pasti berkata:
'Besok lah Nak ketemu pacarmu. Masih banyak waktu.'
Saya sangat tidak sabar. Karena, lepas sedikit wajah si Dedek dari pikiran, saya menjadi gila. Entah inikah yang bernama virus cinta?

Telepon berdering. Si Dedek mengabarkan menuju rumah. Saya.

Gusur Menggusur Bersama Satpol PP

Gusur menggusur. Mari mengingat Abang Gus Dur. Di dalam rapat ia mendengkur. Bermimpi ngobrol dengan burung tekukur. Atau ia sedang tepekur. Ah, pasti ia sedang berbincang dengan Sinta Nuriyah di antara ombak berdebur. Di malam ditemani bintang bertabur. Sungguh lucu mereka berdua makan bubur. Tersedak, Gus Dur  sembur sembur.

Jangan lupa kumur kumur. Meski penglihatan sudah kabur, tak lupa cari uang banyak banyak lembur. Siapa tahu belanja ke Singapur.

Insyafnya Seorang Mantan Jagoan

Jagoan insyaf. Tak mau lagi memukul orang. Hatinya sekarang tulus. Suka membantu. Nenek mau menyeberang jalan, ia dengan sukarela menuntun. Atau, seorang ibu bertanya ke mana arah Jalan Nusantara, si mantan jagoan memberi aba aba yang tepat. Pensiun dari kejahatan. Lepas dari murka orang orang yang menyerapah. Karena sang mantan preman telah kembali ke jalan yang benar.

Mari kita sambut datangnya warga baru. Lama tetapi sudah bermakna mutakhir. Jangan sangsi jangan ragu, karena si abang sangat ramah. Selalu mengumbar senyum, beruluk salam setiap ada saudara baru yang ingin berjabat tangan. Karena, masa kelam sudah terkubur dalam. Tak pernah lagi ada cerita membunuh gadis. Atau, menculik bayi untuk dijual. Semua sudah menjadi kenangan untuk jadi bahan renungan.

Selamat datang Abang Mantan Jagoan. Pukullah kami yang bergerak ke masa binalmu. Ingatkan kami justru menuju kebaikan. Yang kembali dikau rintis.

Tukang Sado Berojek

Tukang sado naik ojek. Muter muter Simpang Lima Semarang. Melampiaskan penat, setelah seminggu pusing menerima pesanan. Supitan, nikah massal, pameran Bupati baru, atau perlombaan kendaraan hias HUT RI. Abang tukang sado berfoya foya. Beli baju, sepatu, kunci, lonceng, juga kacamata buat si kuda kesayangannya.

'Bang Ojek. Jangan kenceng kenceng!' perintah Abang sado.
'Oke Bos.' setuju Abang ojek.

Baru kali ini dunia berpihak ke Abang tukang sado. Biasanya, ia hanya menerima perintah. Diminta ke sana, ia menurut. Mengelilingi Tugu Muda tujuh puluh kali, ia tak mampu menampik. Segala perintah ia takzim meluluskan. Asal para pelanggan puas dengan jasanya. Tak ada keluh, kegembiraan tersalur. Meski di dalam hati, ia meringis. ''Kapan aku merasakan senang seperti mereka?''

Dan jawaban sudah didapat. Ia menenteng tas keresek, berisi aneka belanja. Akan dipamerkan ke seluruh anggota keluarga. Betapa hari ini senang adalah milik mereka sekeluarga.

Amboy, naik sado enak nian.



Sumber foto: www.flickr.com/photos/luluk/43159575

Mungkinkah Kehancuran NKRI Berawal dari Yogyakarta?

Yogyakarta dan NKRI adalah satu paket istimewa


Membuat kecewa rakyat Yogya, janganlah pernah terjadi. Karena itu tidak baik bagi kesehatan NKRI. Tanpa Yogya, Indonesia pincang. Tentu, tanpa Maluku Papua dan Aceh, RI tak ada apa apanya. Tapi, untuk kasus Yogya dengan RUU Keistimewaan yang berlarut larut, harus segera dituntaskan. Karena ini bisa jadi menjadi pemicu pecahnya NKRI hingga berkeping keping.

Saya bukan ahli nujum. Bukan cenayang yang setiap awal tahun berkoar koar di televisi. Setidaknya, saya berusaha menyerap aroma percikan mulai terkikisnya nilai nilai kesatuan. Dimulai dari Yogya. Ya, jika keinginan sebagian besar rakyat Yogya untuk mengesahkan Sultan sekaligus Gubernur, ditolak oleh Pemerintah.

Sewajarnya Pemerintah segera menyelesaikan tugas berat ini. Atau, bom waktu akan berpihak kepada kehancuran negeri yang indah bernama Nusantara ini.

Tak ada kurang buat Yogya untuk berdiri sendiri sebagai sebuah negara. Meski tanpa industri berat yang mencorongkan asap berton ton ke udara, Yogya memiliki sejuta potensi. Pariwisata sejarah, budaya, industri pendidikan, aset aset terunggul, dan yang lebih menohok adalah: nuansa egaliter Yogya yang lebih bagus dibanding RI secara keseluruhan. Yogya seakan menjadi mercu bagi kemajuan bangsa Indonesia. Namun sayang, hal itu tidak pernah dipelajari oleh para pemimpin Senayan.

Hemat berhemat, jagalah dan sayangi Yogya sebagai tiang pancang kukuhnya RI.
Karena di dalam Yogya, bergulat manusia manusia dari seluruh ras Nusantara. Dan, kedewasaan manusia manusia Yogya tak akan membuat ramalan ini menjadi nyata. Yogya tetap mendukung NKRI sampai kapanpun. Semoga.

Tabik teruntukmu Sultan.


Pemimpin Saya yang Semakin Tambun

Tambun setiap waktu


Semakin gemuk, menuju bulatan sempurna. Itulah potret pemimpin saya. Yang ogah berdiet, terlalu banyak duduk. Tumpukan lemak di mana mana. Terutama di sekitar wajah. Tampak seperti kue bakpao. Alih alih menggemaskan, saya merasa malu, mengapa berpunya pemimpin tak memperhatikan bentuk tubuhnya. Begitukah yang ingin ditunjukkan kepada warga pemilihnya?

'Hai, ini saya. Sehat, makmur, dan chubby kan?'

Ukuran kemakmuran? Agaknya harus dikupas tuntas. Bagaimana bisa seorang pemimpin berperut buncit? Pasti ia tidak gesit. Untuk mengejar ketertinggalan di arena pacu bersama pemimpin dunia lain, dipastikan terkencing kencing tak akan mampu. Ingat Saudara, ini adalah lomba pengaruh. Jika memengaruhi warga dengan orasi membahana, baiklah saya menerima dengan takzim. Tapi, bualan berkedok intelek pun masih bisa diragukan. Masalah tubuh yang makin menggembur, pertanyaan teramat berat. Apakah koki istana dengan cerdas memberikan asupan gizi kepada atasannya?

Ramping saja menjadi kendala. Ditanya, 'Kau diet palsu ya?' atau 'Pasti kau pakai susuk!'
Dan lain sebagainya. Apalagi ini tampak nyata, gembrot. Seekor kuda nil pun akan terkekeh, tak terima jika bagindanya berbadan ekstra tambun.

Baiklah, kita tunggu empat tahun mendatang. Apakah ia semakin besar, besar, besar, dan BESAR. Tibalah menusukkan jarum ke tubuhnya. Tepat ke pusar.